- REUTERS/Henry Romero
Inggris Diminta Waspada sama Argentina, Bukan karena Lionel Messi Cs Hebat
Jakarta, tvOnenews - Argentina akan menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 pada Kamis, 16 Juli 2026, pukul 02.00 WIB di Stadion Atlanta (Mercedes-Benz), Georgia, Amerika Serikat (AS).
Meski begitu, The Three Lions, julukan Inggris, diminta waspada jelang kontra La Albiceleste. Bukan karena kehebatan tim tetapi keputusan wasit yang dinilai berat sebelah. Dua negara, Mesir dan Swiss, sudah menjadi 'korban' Argentina di babak sebelumnya.
Swiss misalnya, sangat marah dengan 'keputusan wasit yang berat sebelah' yang menyebabkan mereka tersingkir di perempat final Piala Dunia 2026 melawan Argentina, seperti dikutip dari situs Metro.
Saat itu, Argentina membutuhkan waktu tambahan untuk mengamankan kemenangan 3-1 atas Swiss, yang bermain dengan 10 pemain setelah kartu merah kontroversial yang diterima Breel Embolo pada menit ke-72.
Embolo menjadi pemain pertama yang diusir keluar lapangan akibat peraturan baru tentang kesalahan identitas di Piala Dunia 2026.
Gelandang Argentina Leandro Paredes awalnya diberi kartu kuning karena tekelnya terhadap Breel Embolo saat ia tampak menjegal penyerang Swiss tersebut.
Namun, setelah VAR merekomendasikan peninjauan kembali insiden tersebut, Wasit Portugal Joao Pinheiro mengubah keputusannya di lapangan dan memberikan kartu kuning kedua kepada Embolo karena simulasi.
Swiss tidak senang dengan penerapan hukum salah identifikasi, namun, Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional, yang mengawasi peraturan sepak bola, mengeluarkan pembaruan sebelum Piala Dunia untuk mencakup situasi 'salah identitas' di mana seorang pemain diberi kartu kuning tetapi pelanggaran dilakukan oleh pemain lawan.
Setelah negaranya tersingkir dari Piala Dunia 2026, bek Swiss Manuel Akanji menyatakan ketidakpuasannya terhadap kinerja wasit secara keseluruhan, mengklaim bahwa beberapa pelanggaran dan diving yang dilakukan pemain Argentina 'tidak dihukum'.
"Ketika wasit menentang Anda, itu menjadi sulit,' kata Akanji. "Setiap hal kecil pun dianggap sebagai pelanggaran terhadap kami. Setiap aksi pura-pura jatuh dan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pemain Argentina tidak dihukum. Biasanya saya tidak mengkritik wasit, tetapi saya belum pernah mengalami pertandingan yang begitu timpang".
Kapten Timnas Granit Xhaka dan Pelatih Timnas Swiss, Murat Yakin, juga sama-sama mengungkapkan kekecewaannya. "Keputusan itu membingungkan saya. Tidak ada alasan untuk itu. Sungguh disayangkan. Kami melewatkan kesempatan besar, dan sayangnya, perjalanan telah berakhir. Ini menyakitkan, tetapi kita bisa bangga," ungkap Yakin.
"Ini keputusan besar yang benar-benar mengubah jalannya pertandingan. Ini sangat menyakitkan. Aturan tetap aturan. Kita tidak bisa mengubahnya. Tapi dengan keputusan ini, dia (wasit) telah menghancurkan pertandingan. Itu pendapat saya," jelas Xhaka.
Sebelumnya, awal pekan ini, FIFA juga menerima pengaduan resmi dari Mesir terkait keputusan wasit dalam kekalahan 3-2 mereka melawan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Mesir sangat marah dengan keputusan untuk membatalkan gol Zico dan menginginkan penalti atas pelanggaran terhadap Mohamed Salah beberapa saat sebelum Argentina mencetak gol dari serangan balik untuk memenangkan pertandingan.
Dalam tanggapannya terhadap keluhan Mesir, Kepala Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, membantah tuduhan bias terhadap Argentina.
"Tidak ada yang bisa mempertanyakan integritas para wasit Piala Dunia FIFA. Tidak ada juga yang bisa mengklaim bahwa wasit FIFA dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh presiden FIFA [Gianni Infantino] sekali pun. Wasit membuat keputusan yang jujur dan, sama seperti pemain dan pelatih, mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik," tutur Collina.