- REUTERS/Agustin Marcarian
Argentina Terancam Kehilangan Lionel Scaloni, AFA: Rencana A, B, dan C Tetap Dia
Jakarta, tvOnenews – Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) masih berupaya mempertahankan Lionel Scaloni sebagai pelatih Timnas Argentina. Namun, AFA juga tidak akan memaksakan kehendaknya jika ia benar-benar memilih meninggalkan kursi pelatih setelah kontraknya berakhir.
Masa depannya kembali menjadi sorotan setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara di Piala Dunia 2026. Tim Tango harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-1 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 dalam laga final yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, 19 Juli 2026.
Kontrak Lionel Scaloni bersama Timnas Argentina akan berakhir pada Desember 2026. Sebelum Piala Dunia, AFA sebenarnya sudah membuka pembicaraan untuk memperpanjang kontrak sang pelatih. Bahkan, Presiden AFA Claudio “Chiqui” Tapia pada Desember 2025 menyatakan pihaknya ingin mempertahankan Scaloni hingga Piala Dunia 2030.
Namun, situasinya berubah setelah Argentina kalah di final Piala Dunia 2026. Scaloni mengaku membutuhkan waktu untuk memikirkan masa depannya dan memberi sinyal bahwa dirinya kemungkinan besar tidak melanjutkan tugas setelah kontraknya berakhir.
"Saya akan tetap sampai Desember dan setelah itu kemungkinan besar saya akan berhenti," kata Lionel Scaloni, usai kekalahan dari Spanyol di final Piala Dunia 2026.
Pernyataan tersebut membuat AFA harus bersiap menghadapi kemungkinan kehilangan pelatih yang telah membawa Argentina meraih kesuksesan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Tapia masih berharap Lionel Scaloni berubah pikiran. Bagi orang nomor satu di AFA tersebut, sang pelatih tetap menjadi pilihan utama untuk memimpin Argentina menuju Piala Dunia 2030.
"Rencana A, B, dan C saya adalah Scaloni. Saya ingin dia bertahan dan kami semua ingin dia bertahan," ungkapnya, seperti dikutip ESPN. Kendati demikian, Tapia menyadari keputusan akhir tetap berada di tangan Lionel Scaloni.
AFA tidak ingin mempertahankan sang pelatih apabila sudah tidak memiliki motivasi atau keyakinan untuk melanjutkan proyek bersama Timnas Argentina.
"Saya harus menghormati keputusannya, membiarkannya berpikir dan membuat keputusan yang menurutnya tepat. Saya tidak bisa mempertahankannya jika dia merasa tidak memiliki hasrat untuk melatih atau tidak yakin bisa kembali meraih kesuksesan di masa depan," lanjut Tapia.