- antara
FIFA Ungkap Kronologi Masuknya Persib ke Daftar Ban Registration, Berawal Dari Cicilan ke Robert Rene Alberts Diputus Hingga Kena Ghosting Manajemen
Jakarta, tvOnenews.com - Persib Bandung kembali masuk dalam daftar hitam FIFA Ban Registration per Senin (10/8/2026). Persib masuk daftar tersebut karena memiliki permasalahan dengan mantan pelatihnya, Robert Rene Alberts.
FIFA sebenarnya telah mengunggah hasil Keputusan Dewan Status Pemain terkait sengketa ketenagakerjaan yang melibatkan pelatih Robert Rene Alberts sejak 3 Oktober 2026 lalu.
Masalah tak kunjung selesai, Persib pun kembali masuk dalam daftar FIFA Registration Ban yang membuat Maung Bandung tak bisa mendaftarkan pemain baru untuk menatap musim 2026-2027.
FIFA pada awalnya mengungkapkan fakta dari kasus ini berawal di mana Persib Bandung dan Robert Rene Alberts memiliki kontrak yang berlaku pada 3 Mei 2022 sampai 2 Mei 2025.
Namun tak lama kontrak berjalan, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kerja sama lebih awal pada 10 Agustus 2022. Konsekuensinya, Persib memiliki kewajiban untuk membayar kompensasi dan atau penyelesaian hak-hak keuangan sang pelatih.
Negosiasi pun dimulai oleh kedua belah pihak per tanggal 18 Februari 2025. Di mana Persib harus membayar Rp3 miliar dengan 10 kali cicilan pada durasi Maret-Desember 2025.
Pada termin pertama, Persib membayarkan Rp225 juta selama 10 bulan dengan total Rp1,8 miliar dan termin kedua dengan Rp600 juta pada November-Desember 2025.
Namun masalah muncul ketika Persib melakukan pemotongan dan penunggakan cicilan yang akhirnya membuat Robert melayangkan gugatan ke FIFA.
Sebut saja ketika ada kesepakatan lisan soal upgrade tiket pesawat dari kelas ekonomi ke bisnis dengan ketentuan selisih harga tiket akan dipotong dari termin kedua.
Pada Maret 2025, cicilan pertama justru dibayarkan Rp93.749.500, yang mana Persib secara sepihak memotong Rp131.250.500 dengan alasan pemotongan dari biaya upgrade pesawat, yang mana sebelumnya telah disepakati bahwa akan dipotong di akhir periode.
Robert pun meminta kepastian pada Direktur Olahraga Persib, Stanley Bernard. Stanley Bernard pun menyebut akan menyelesaikan masalah itu.
Namun pada jatuh tempo cicilan kedua pada April 2025, Persib malah tak melakukan pembayaran sama sekali sampai jatuh tempo.
Stanley sebenarnya sempat memberikan kabar via pesan singkat bahwa akan membayar Rp125 juta. Namun setelah dilakukan pengecekan, tak ada pembayaran yang masuk. Bahkan Robert disebut telah menghubungi Deputy CEO Persib, Adhitia Herawan terkait tunggakan tersebut.
Persib kembali tak melakukan pembayaran sampai jatuh tempo bulan ketiga, Mei 2025. Sabar sampai Juni 2026, Robert Rene Alberts akhirnya mengajukan gugatan ke FIFA Player's Status Chamber (PSC) pada Juni 2026.
Dalam gugatannya, Robert menuntut pembayaran tunggakan serta bunga. Masalah baru pun muncul dengan Persib yang sama sekali tak memberikan tanggapan atau jawaban alias ghosting pada kasus ini.
Hal ini pun membuat FIFA Memutus perkara ini dan menyatakan Persib bersalah atas pemotongan tak sah dan penunggakan pembayaran.
Dari putusan per tanggal 3 Oktober 2025, Persib pun memiliki kewajiban untuk membayarkan sisa tunggakan cicilan untuk Maret, April, Mei 2025 beserta bunga lima persen hingga tanggal pembayaran efektif.
Dengan rincian pembayaran Maret sebesar Rp131,24 juta, April sebesar Rp225 juta, dan Mei sebesar Rp225 juta. Sisa cicilan pun sebenarnya wajib dibayarkan namun tak mendapatkan bunga karena Robert mengajukan gugatan ketika cicilan keempat belum jatuh tempo.
Persib ternyata diberi waktu selama 45 hari untuk menyelesaikan masalah itu agar tak masuk dalam FIFA Ban Registration.
Namun Persib tetap mengacuhkannya hingga akhirnya larangan melakukan pendaftaran pemain di tiga periode bursa transfer pemain diambil oleh FIFA.
Persib pun ternyata dihantui oleh hukuman yang lebih besar jika tetap mengabaikan sanksi tersebut. Di maan jika masa tiga periode larangan transfer Persib masih belum melunasi hutangnya, kasus ini akan diteruskan pada Komite Disiplin FIFA untuk sanksi yang lebih berat.