- tvOnenews/Ilham Giovani Pratama
Suporter Tandang Kembali Hadir di Super League, I.League: Jangan Anarkis dan Rasis
Jakarta, tvOnenews.com - Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menyambut positif kembalinya suporter tim tamu di Super League 2026/2027. Namun, ia mengingatkan semua pihak agar tidak cepat berpuas diri setelah dua laga awal berlangsung kondusif.
Kehadiran suporter tandang menjadi salah satu perubahan pada kompetisi musim ini. Setelah tiga musim dilarang, para pendukung kembali mendapat kesempatan menemani klub kebanggaannya bermain di markas lawan.
Momen tersebut terlihat dalam dua pertandingan pembuka Super League 2026/2027 pada Jumat (4/9/2026). Tidak ada insiden berarti meski suporter tim tamu kembali diperbolehkan hadir di stadion.
Pertandingan pertama mempertemukan Arema FC dengan Isenmulang Kalteng FC pada Jumat sore. Singo Edan membuka perjalanan musim dengan kemenangan telak 4-0 atas tim tamu.
Perhatian kemudian tertuju pada duel Bali United kontra PSS Sleman pada Jumat malam. Pertandingan di Stadion Kapten I Wayan Dipta itu juga menjadi bagian dari opening ceremony Super League 2026/2027.
Laga tersebut menjadi salah satu ujian awal atas kebijakan kembalinya suporter tandang. Terlebih, sekitar 16 ribu penonton hadir langsung menyaksikan pertandingan di stadion.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2.500 orang merupakan suporter PSS Sleman. Mereka datang untuk memberikan dukungan langsung kepada tim kesayangannya di markas Bali United.
Sebelum kompetisi dimulai, langkah antisipasi juga dilakukan dengan melibatkan kelompok suporter. Perwakilan pendukung dari 18 klub peserta Super League 2026/2027 telah menyampaikan deklarasi bersama.
Salah satu poin utama deklarasi tersebut adalah menolak segala bentuk anarkisme dan provokasi. Kekerasan fisik maupun verbal terhadap suporter lawan dan perangkat pertandingan juga menjadi tindakan yang harus dihindari.
Sikap antirasisme turut menjadi bagian penting dalam kesepakatan tersebut. Para suporter juga berkomitmen mematuhi aturan panitia pelaksana dan menjaga situasi tetap kondusif saat mendampingi klub.
Dukungan kepada klub diharapkan tetap diberikan secara sehat dan sportif. Para pendukung diminta menerima apa pun hasil pertandingan tanpa melakukan tindakan yang berpotensi merugikan klub.
Komitmen tersebut juga disertai kesiapan menerima konsekuensi jika terjadi pelanggaran. Sanksi hukum sesuai peraturan perundang-undangan hingga sanksi sosial dari organisasi menjadi bagian dari konsekuensi tersebut.
Berjalannya dua pertandingan pertama tanpa insiden menjadi sinyal positif bagi kompetisi musim ini. Namun, Ferry Paulus tidak ingin hasil awal tersebut membuat pengawasan dan edukasi kepada suporter mengendur.
Menurut Ferry, kompetisi masih berada pada tahap awal sehingga perjalanan musim masih panjang. Edukasi kepada suporter dan pemain harus terus dilakukan agar situasi positif dapat dipertahankan hingga akhir kompetisi.
“Tidak boleh juga kita lengah dan berpuas diri,” ujar Ferry melalui rekaman dari PSSI Pers yang dikutip Sabtu (5/9/2026).
Ferry berharap para suporter tetap memberikan dukungan penuh kepada klub masing-masing dengan cara positif. Ia secara khusus mengingatkan agar tidak muncul tindakan anarkis maupun rasis selama pertandingan.
Menurutnya, perilaku suporter turut memengaruhi kualitas pertandingan yang dapat dinikmati masyarakat. Atmosfer stadion yang kondusif juga pada akhirnya memberikan dampak positif bagi klub.
“Jangan anarkis dan rasis, sehingga pertandingan kita menjadi tontonan yang menarik dan ini juga pada akhirnya adalah baik untuk klub itu sendiri,” kata Ferry.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PSSI, Ratu Tisha Destria, turut memberikan respons positif terhadap kembalinya suporter tandang. Ia melihat kebijakan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas, terutama mengenai hubungan suporter dengan sepak bola.
Ratu Tisha meyakini suporter merupakan bagian penting yang memiliki kecintaan besar terhadap sepak bola. Menurutnya, kecintaan tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran untuk menjaga olahraga tersebut.
Rasa cinta terhadap sepak bola, menurut Ratu Tisha, semestinya melahirkan tanggung jawab untuk merawatnya. Hal itu termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan saat memberikan dukungan langsung di stadion.
“Kami sangat senang sekali karena saya selalu percaya bahwa suporter itu adalah orang-orang yang sangat mencintai sepak bola,” kata Ratu Tisha.
“Kalau kita mencintai sesuatu, pasti kita akan menjaganya,” lanjutnya.
Ratu Tisha pun tetap memiliki kepercayaan besar terhadap kelompok suporter dari berbagai klub di Indonesia. Ia optimistis para pendukung mampu menjaga sepak bola agar tetap menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi semua pihak.
“Saya masih percaya bahwa suporter sepak bola Indonesia dari klub mana pun pasti akan menjaga sepak bola,” pungkasnya.
(igp)