- Instagram @j.jacquet97
Siapa Jeremy Jacquet? Bek Muda Asal Prancis yang Jadi Rebutan Arsenal dan Chelsea
tvOnenews.com - Nama Jeremy Jacquet mendadak jadi buah bibir di bursa transfer Eropa. Bek muda milik Stade Rennais itu kini berada di tengah pusaran minat klub-klub elite, mulai dari Arsenal, Chelsea, hingga Liverpool.
Di usia yang baru menginjak 20 tahun, Jacquet sudah diproyeksikan sebagai bek masa depan dengan potensi kelas dunia.
Ketertarikan Arsenal terhadap Jacquet sejatinya bukan kejutan.
The Gunners memang dikenal piawai mengendus bakat muda Eropa, terutama dari Prancis.
- Instagram/j.jacquet97
Namun kali ini, langkah mereka mendapat tantangan serius dari Chelsea yang siap “bakar duit” demi mengamankan sang pemain lebih cepat.
Lantas, siapa sebenarnya Jeremy Jacquet dan apa yang membuatnya begitu istimewa?
Profil Singkat Jeremy Jacquet
Jeremy Jacquet adalah bek tengah asal Prancis yang lahir pada 2005 dan kini berstatus pemain Stade Rennais.
Menurut data Transfermarkt, posisi utamanya adalah bek tengah kaki kanan, namun ia juga cukup fleksibel untuk dimainkan sebagai bek kanan dalam skema tertentu.
Namanya mulai mencuri perhatian saat menjalani masa peminjaman di Clermont pada musim 2023/24.
Di klub tersebut, Jacquet tampil dalam 17 pertandingan dengan total 1.460 menit bermain, sebuah catatan yang sangat solid untuk pemain seusianya.
Performa itu membuat Rennes memanggilnya kembali pada Januari 2024.
Sejak saat itu, Jacquet perlahan menjelma menjadi bagian penting skuad utama, meski kala itu usianya masih 19 tahun.
Ia juga merupakan langganan tim nasional Prancis kelompok umur dan tampil menonjol di UEFA Euro U-19, membantu Les Bleus menembus partai final.
Jeremy Jacquet kerap disebut sebagai bek modern. Ia agresif saat bertahan, cepat dalam membaca arah serangan lawan, dan berani keluar dari garis pertahanan untuk melakukan pressing.
Statistik menunjukkan ia memiliki angka tekel dan intersepsi per 90 menit yang tinggi, menandakan insting bertahan yang matang.
Kecepatannya juga menjadi keunggulan penting, terutama saat harus menutup ruang di sisi kanan pertahanan.
Dalam membangun serangan, Jacquet tampil tenang dan efisien.
Ia nyaman membawa bola dari belakang, mencatat 0,78 progresif carry dan 0,49 dribel sukses per 90 menit, angka yang tergolong istimewa untuk bek tengah muda.
Tak heran jika gaya bermainnya sering dibandingkan dengan William Saliba dan Gabriel Magalhães, dua pilar utama Arsenal saat ini.
Kombinasi fisik, ketenangan, dan kecerdasan membaca permainan membuat Jacquet terlihat “siap naik level”.
Jacquet tumbuh di lingkungan akademi Rennes yang terkenal produktif.
Ia satu generasi dengan pemain-pemain top seperti Désiré Doué, Mathys Tel, dan Lesley Ugochukwu, yang kini telah lebih dulu mencicipi panggung besar Eropa.
Musim lalu, ia bahkan mencatat rasio aksi progresif tertinggi di antara seluruh pemain U-21 dari tujuh liga top Eropa, sebuah pencapaian yang membuat namanya masuk radar klub-klub Jerman dan Spanyol, selain Premier League.
Chelsea saat ini bergerak paling agresif. Mereka bahkan dikabarkan telah mencapai kesepakatan personal dengan sang pemain.
Rennes sendiri berada di posisi tawar yang sangat kuat.
Kontrak Jacquet masih berlaku hingga 2029, dan klub Prancis itu enggan melepasnya kecuali mendapat tawaran mendekati 60 juta euro, mendekati rekor penjualan Jeremy Doku ke Manchester City.
Arsenal belum melakukan langkah agresif, namun tetap memantau situasi.
Opsi yang dipertimbangkan The Gunners adalah merekrut Jacquet lalu meminjamkannya kembali ke Rennes, atau menunggu hingga musim panas 2026, dengan risiko kalah cepat dari rival.
Dengan usia muda, pengalaman di Ligue 1, serta jam terbang internasional kelompok umur, Jeremy Jacquet memenuhi hampir semua kriteria bek elite modern.
Ia cepat, kuat, cerdas, dan nyaman dengan bola di kakinya.
Tak berlebihan jika banyak pihak menyebutnya sebagai “Saliba berikutnya”.
(tsy)