- REUTERS/Phil Noble
Michael Carrick Kembalikan Identitas Manchester United, Menghidupkan Lagi Warisan Sir Alex Ferguson?
tvOnenews.com - Manchester United perlahan menunjukkan tanda-tanda kembali ke jati dirinya. Dalam waktu singkat, Michael Carrick berhasil menghadirkan sesuatu yang terasa akrab bagi publik Old Trafford: keberanian, ekspresi bebas pemain, dan mental pemenang.
Dua kemenangan beruntun atas Manchester City dan Arsenal bukan hanya soal tiga poin, tetapi sinyal kuat bahwa ada perubahan filosofi yang nyata di tubuh Setan Merah.
Debut manis Carrick sebagai pelatih interim langsung memantik perbandingan dengan era kejayaan masa lalu.
Tanpa gembar-gembor revolusi taktik, ia justru memilih jalan sederhana namun bermakna: menghidupkan kembali prinsip dasar warisan Sir Alex Ferguson yang sempat ditinggalkan.
Di sinilah Carrick dinilai berhasil mengembalikan identitas Manchester United, tim yang kuat secara kolektif, namun tetap memberi ruang bagi kejeniusan individu.
Aturan Sir Alex yang Hilang di Era Ruben Amorim
Melansir dari United In Focus, tak ada yang menyebut Michael Carrick sebagai “Sir Alex Ferguson baru”. Namun, langkah awalnya memulihkan satu aturan fundamental era Ferguson menjadi pengakuan tersirat bahwa Manchester United sempat tersesat.
- Wikimedia/Andrea Sartorati
Penunjukan Carrick sendiri dianggap sebagai refleksi bahwa keputusan memutus total tradisi klub saat menunjuk Ruben Amorim sebelumnya tidak berjalan sesuai harapan.
Di bawah Amorim, Manchester United kerap dinilai menjauh dari nilai historis klub. Pendekatannya sangat sistematis dan kaku, bahkan dianggap bertabrakan dengan DNA United yang selama puluhan tahun bertumpu pada kebebasan berekspresi pemain.
Salah satu prinsip utama Sir Alex adalah memberi pemain kepercayaan untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam kerangka tim. Amorim justru menghapus ruang tersebut.
Pemain dinilai semata-mata dari kecocokan dengan sistem, bukan dari potensi mereka sebagai pembeda dalam pertandingan.
Sistem Mengalahkan Kreativitas, Identitas MU Memudar
Obsesi Amorim terhadap formasi membuat karakter pemain terpinggirkan. Bruno Fernandes, yang dikenal paling mematikan ketika bermain dekat kotak penalti lawan, dipaksa turun lebih dalam demi memenuhi kebutuhan taktis.
Matheus Cunha, pemain dengan naluri menyerang spontan, justru diarahkan bermain kaku sebagai bagian dari skema mekanis.
Pendekatan ini membuat Manchester United kehilangan esensinya. Fans tidak menuntut sepak bola tanpa struktur, tetapi juga tidak ingin melihat kreativitas pemain dimatikan.
Di era Sir Alex Ferguson, struktur dan kebebasan berjalan beriringan, pemain bertanggung jawab terhadap tim, namun diberi ruang untuk menentukan hasil pertandingan di momen krusial.
Sebaliknya, Amorim cenderung melihat sistem sebagai segalanya. Pemain yang tidak sesuai dianggap masalah, bukan solusi. Akibatnya, United kerap tampil datar, kehilangan momen magis yang selama ini menjadi ciri khas klub.
- instagram Bruno Fernandes
Carrick Menemukan Keseimbangan yang Lama Hilang
Perubahan terasa cepat begitu Carrick mengambil alih. Bukan sekadar soal atmosfer positif, melainkan keseimbangan nyata antara disiplin dan kebebasan bermain. Carrick tidak menabrak struktur, tetapi juga tidak menjadikannya penjara bagi pemain.
Dalam dua laga awal melawan Manchester City dan Arsenal, Manchester United tampil lebih cair. Pemain terlihat lebih berani mengambil keputusan, lebih percaya diri mengeksekusi ide, dan lebih hidup saat menyerang.
Gol-gol yang tercipta bukan hasil kebetulan, melainkan konsekuensi dari pemain yang dilepas dari belenggu sistem terlalu ketat.
Carrick memahami bahwa sepak bola Manchester United selalu bertumpu pada kualitas individu yang bekerja untuk kepentingan kolektif.
Ia tidak ekstrem seperti Amorim, namun juga tidak membiarkan permainan berjalan tanpa kendali. Titik tengah inilah yang selama ini hilang.
Memang, dua pertandingan belum cukup untuk membuat kesimpulan besar. Namun setidaknya, Michael Carrick telah mengembalikan sesuatu yang sangat dirindukan: identitas Manchester United.
Dengan menghidupkan kembali aturan pertama Sir Alex Ferguson, percaya pada pemain tanpa melupakan tim—Setan Merah kembali tampak seperti dirinya sendiri. (udn)