- Action Images via Reuters/Andrew Boyers
3 Hal yang Bikin Manchester City Dipermalukan Tim Antah Berantah di Liga Champions, Laga Terburuk di Bawah Asuhan Pep Guardiola?
Jakarta, tvOnenews.com - Ada tiga faktor yang membuat Manchester City dipermalukan tim antah berantah di Liga Champions. Itu bahkan disebut sebagai kekalahan terburuk mereka di bawah asuhan Pep Guardiola.
The Citizens menderita kekalahan dengan skor 1-3 saat melawat ke Aspmyra Stadion pada lanjutan Liga Champions, Rabu (21/1/2026) dini hari tadi WIB. Mereka telah kesulitan sejak awal meski mendominasi.
Bodo/Glimt hanya mengandalkan serangan balik. Namun, tim tuan rumah berhasil unggul dua gol pada babak pertama melalui dwigol Kasper Hogh.
Di paruh kedua, Bodo/Glimt semakin menjauh melalui gol Jens Petter Hauge di menit ke-58. Dua menit kemudian, Rayan Cherki memperkecil ketertinggalan City, namun Rodri dikartu merah pada menit ke-62.
City akhirnya kalah dengan skor 1-3. Media Inggris, The Sporting News, menyebut bahwa ini mungkin adalah kekalahan terburuk bersama Guardiola.
“Man City dipermalukan oleh Bodo/Glimt: Mengapa kekalahan di Liga Champions mungkin adalah permainan terburuk mereka bersama Pep Guardiola,” tulis The Sporting News dalam judulnya.
Alasan pertama adalah Erling Haaland melalui paceklik gol panjang. Sang striker asal Norwegia tidak mampu untuk mencetak gol pada laga yang digelar di negara asalnya.
Dia kini telah melalui delapan laga beruntun tanpa mencetak gol. Terakhir kali dia mencetak gol adalah saat menghadapi Brighton & Hove Albion melalui penalti.
City menghadapi masalah berat ketika Haaland tidak dalam kondisi terbaiknya. Ini terjadi lagi pada laga kontra Bodo/Glimt.
Alasan kedua, menurut The Sporting News, adalah kekurangan kepemimpinan. Lini pertahanan kehilangan Ruben Dias yang absen dalam laga ini.
Kapten Bernardo Silva juga tidak ikut ke Norwegia karena skorsing. Rodri mengemban ban kapten dalam laga ini, namun dia mendapatkan dua kartu kuning dalam waktu yang singkat, tepat setelah momentum kebangkitan yang diberikan oleh Cherki.
Sang gelandang mungkin adalah peraih Ballon d’Or 2024, namun dinilai masih jauh dalam hal kepemimpinan dan mengambil tanggung jawab dalam situasi sulit.
Alasan pamungkas menurut media Inggris tersebut adalah taktik Guardiola. Itu sering menjadi pembeda di masa lalu, namun justru menjadi masalah sekarang.
Guardiola biasanya bermain dengan bentuk 3-1-6 ketika menguasai bola musim ini, dengan salah satu full-back mereka maju ke lini serang. Masalahnya adalah operan di sepertiga akhir tidak cukup bagus dan situasi ini membuat mereka terekspos seketika lawan mendapatkan bola.
Man City mendatangkan Marc Guehi dari Crystal Palace pada pekan ini. Kehadirannya diharapkan bisa menambal kekurangan di lini pertahanan, yang terbukti bermasalah pada laga kontra Bodo/Glimt. (rda)