- instagram.com/ksclokerentemse_official/
Pemain Keturunan Batak Ini Buat Sensasi di Media Eropa, Sindir Juventus hingga Sebut Liga Italia Alami Kemunduran
Jakarta, tvOnenews.com - Pemain keturunan Medan, Radja Nainggolan, kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan refleksi jujur mengenai perjalanan kariernya di sepak bola Liga Italia. Mantan gelandang Inter Milan dan AS Roma itu secara terbuka melontarkan kritik terhadap level Serie A yang dinilainya mengalami penurunan signifikan.
Dalam wawancara bersama Radio Manà Manà Sport, Nainggolan berbicara lugas tanpa tedeng aling-aling. Ia mengakui banyak keputusan penting dalam kariernya dipengaruhi faktor non-teknis, termasuk soal kenyamanan hidup di luar lapangan hijau.
Salah satu pernyataan paling mencolok datang ketika Nainggolan menyoroti kualitas Serie A dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, kompetisi tertinggi Italia saat ini tidak lagi seketat era ketika ia masih berada di puncak performa.
“Secara kualitas, iya, Serie A sekarang jauh lebih rendah dibanding 10 sampai 15 tahun lalu,” kata Nainggolan. Ia bahkan mempertanyakan apakah para pemain masa kini mampu bersaing dengan generasi sebelumnya.
“Roma sekarang tetap tim bagus, tapi pemain mana yang bisa bermain di era kami dulu,” ujarnya melanjutkan. Nainggolan menilai label ‘fenomenal’ kini terlalu mudah disematkan kepada pemain muda.
“Seseorang main 10 pertandingan di Atalanta lalu langsung disebut fenomena,” ucapnya. Ia kemudian menyinggung kepindahan Holm ke Juventus yang menurutnya mencerminkan minimnya stok pemain kelas atas di Serie A Liga Italia saat ini.
Dalam konteks tersebut, Nainggolan turut berbicara soal nilai pasar dirinya. Ia yakin banderolnya akan melonjak drastis jika bermain di era sepak bola modern seperti sekarang.
“150 juta,” ujar Nainggolan singkat ketika ditanya soal valuasi dirinya. “Saya pindah ke Inter saja dulu 38 juta, jadi jangan bercanda,” tambahnya dengan nada menyindir.
Mengenang masa-masanya bersama Inter Milan, Nainggolan mengakui kepindahan tersebut tidak pernah terasa sepenuhnya tepat secara emosional. Meski tampil reguler secara profesional, kehidupan di luar lapangan menjadi tantangan tersendiri baginya.
“Di musim pertama bersama Spalletti saya bermain di setiap laga,” katanya. Namun, ia merasa lingkungan Kota Milan tidak sepenuhnya cocok dengan karakter pribadinya.
“Saya suka orang-orang yang membumi, saya ke kedai lokal, itu diri saya,” ungkap Nainggolan. Ia mengaku lebih menikmati makan bersama keluarga dan berbincang santai dengan para suporter.