- Al Nassr
Arab Saudi Malu Ronaldo Tantrum, Biarkan CR7 Cari Gol ke-1000 di Liga Negara Lain?
Jakarta, tvOnenews.com - Drama Cristiano Ronaldo kembali mencoreng citra Liga Pro Saudi. Kali ini bukan soal performa di lapangan, melainkan tantrum sang megabintang yang justru mempermalukan dirinya sendiri, klub, hingga proyek besar sepak bola Arab Saudi.
Drama akhir mogok main Cristiano Ronaldo akhirnya sampai ke episode terakhir. Sebelumnya, Ronaldo sempat menolak tampil karena menuding dana investasi negara Arab Saudi bersikap tidak adil dalam memperlakukan klub-klub di Liga Pro Saudi.
Keluhan Ronaldo berawal dari tudingan bahwa salah satu penyokong dana terbesar dari klub Liga Pro Saudi, Pengelola Dana Investasi Arab Saudi (PIF) lebih memanjakan rival Al-Nassr, Al Hilal, terutama setelah kedatangan Karim Benzema.
PIF memang mendanai sejumlah klub di Arab Saudi seperti Al Nassr, Al Ittihad dan Al Hilal yang saat ini diisi oleh pemain-pemain bertaraf dunia.
Bagi Ronaldo, perlakuan ini dianggap tidak adil, layaknya anak yang kesal karena giliran bermainnya diambil saudaranya sendiri.
Sejak mengambil jalan sendiri pada 2023, Ronaldo memang nyaris tak lepas dari kontroversi. Setelah merusak hubungannya dengan Manchester United, ia memilih hijrah ke Arab Saudi dengan kontrak fantastis senilai sekitar 448 ribu poundsterling atau setara dengan Rp11,2 miliar per hari, sebuah angka yang mencerminkan besarnya taruhan liga tersebut pada satu sosok.
"Namun kedatangan Cristiano Ronaldo ternyata tak memberikan bayak dampak secara prestasi karena tak kunjung mendapatkan trofi," tulis laporan Football 365, dikutip Selasa (10/2/2026).
Liga yang digadang-gadang sebagai panggung pensiun mewah justru berubah menjadi arena kekecewaan, saat klub-klub lain merusak “pesta perpisahan” sang superstar.
Ronaldo kemudian mengalihkan fokus ke pencapaian pribadi. Ia kini hanya berjarak 39 gol dari torehan 1.000 gol sepanjang karier.
Sebuah pencapaian luar biasa, bahkan bagi para pengkritiknya. Riwayat karier di Manchester United, Real Madrid, dan Juventus tetap pantas mendapat respek, terlepas dari bagaimana ia menutup kariernya.
"Masalahnya, hampir setiap momen yang berpotensi membuat Ronaldo terlihat hebat, selalu diikuti tindakan yang justru menunjukkan sisi egois dan kekanak-kanakan. Sulit membayangkan bahwa perilaku seperti ini datang dari pemain yang baru saja berusia 41 tahun," tulis laporan tersebut.