- REUTERS/Daniele Mascolo
Dari Pemburu Scudetto Jadi Tim Pesakitan: Nestapa AC Milan yang Terpaksa Mulai dari Nol Lagi Demi Mimpi Raih Juara
Jakarta, tvOnenews.com - Musim 2025/2026 menjadi salah satu periode paling mengecewakan bagi AC Milan dalam beberapa tahun terakhir. Rossoneri yang sempat bersaing dalam perebutan gelar justru menutup musim di luar zona Liga Champions setelah mengalami penurunan performa drastis.
Kegagalan tersebut memicu gelombang evaluasi besar di internal klub. Manajemen Milan kini menyadari bahwa masalah mereka bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan arah proyek yang selama ini dianggap mulai kehilangan identitas.
Situasi itu terasa semakin menyakitkan karena Milan sebenarnya sempat berada dalam posisi ideal. Setelah memenangkan derby melawan Inter Milan pada Maret lalu, Rossoneri duduk di posisi kedua klasemen dan masih menjaga peluang meraih Scudetto.
Saat itu, Milan unggul cukup jauh dari para pesaing di bawah mereka. Namun, momentum positif tersebut perlahan menghilang setelah tim mulai kehilangan konsistensi pada momen-momen krusial musim ini.
Dalam 10 pertandingan terakhir Serie A, Milan hanya mampu mengumpulkan 10 poin. Catatan tersebut menjadi gambaran jelas tentang rapuhnya performa Rossoneri saat tekanan mulai meningkat di akhir musim.
Tim asuhan Massimiliano Allegri juga mengalami masalah serius di lini serang. Strategi yang terlalu fokus menjaga pertahanan membuat Milan kehilangan agresivitas dan kesulitan menciptakan peluang berbahaya secara konsisten.
Banyak pemain depan akhirnya tampil di luar posisi terbaik mereka. Dampaknya terlihat jelas karena Milan hanya beberapa kali mampu mencetak lebih dari dua gol sepanjang musim Serie A.
- REUTERS/Daniele Mascolo
Rafael Leao yang biasanya menjadi pembeda bahkan mengalami penurunan performa cukup tajam. Penyerang asal Portugal itu sempat melewati hampir tiga bulan tanpa mencetak gol di kompetisi liga.
Christian Pulisic juga mengalami situasi serupa. Pemain timnas Amerika Serikat tersebut gagal mempertahankan konsistensinya dan kesulitan memberikan kontribusi maksimal pada paruh kedua musim.
Meski lini belakang Milan sempat terlihat solid di awal musim, masalah perlahan mulai muncul ketika tim kehilangan keseimbangan permainan. Rossoneri terlalu sering menang dengan selisih tipis dan bergantung pada detail-detail kecil di lapangan.
Sebagian besar kemenangan Milan musim ini hanya diraih dengan margin satu gol. Di sisi lain, banyak kekalahan mereka juga datang dengan cara yang hampir serupa, memperlihatkan betapa tipis batas antara sukses dan kegagalan tim ini.
Kondisi tersebut membuat kritik mulai mengarah kepada manajemen klub. Banyak pihak menilai Milan tidak memiliki visi sepak bola yang benar-benar jelas sejak perubahan struktur kepemilikan beberapa tahun terakhir.
Pergantian pelatih dan perubahan proyek dinilai terlalu sering terjadi tanpa arah yang konsisten. Milan memang terus berinvestasi di bursa transfer, tetapi hasil yang muncul di atas lapangan justru tidak sebanding dengan pengeluaran mereka.
Rossoneri juga dianggap gagal membangun skuad yang benar-benar siap bersaing di level tertinggi. Ketika rival seperti Roma berani melakukan tambahan penting di tengah musim, Milan justru minim pergerakan yang mampu meningkatkan kualitas tim secara signifikan.
- REUTERS/Daniele Mascolo
Kini, revolusi besar mulai dilakukan di San Siro. Sejumlah figur penting seperti Massimiliano Allegri, Igli Tare, Geoffrey Moncada, hingga Giorgio Furlani sudah meninggalkan posisi mereka setelah kegagalan musim ini.
Gerry Cardinale bersama Zlatan Ibrahimovic kini menjadi sosok utama yang memegang kendali proyek baru Milan. Mereka mulai menyusun ulang struktur klub dengan harapan bisa membawa Rossoneri kembali menjadi kekuatan besar di Italia maupun Eropa.
Perubahan besar itu tidak hanya menyentuh kursi pelatih. Milan juga sedang mencari direktur olahraga baru serta membangun ulang fondasi proyek yang lebih modern dan kompetitif untuk jangka panjang.
Nama Andoni Iraola menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menangani Milan musim depan. Pelatih asal Spanyol tersebut dianggap cocok dengan filosofi sepak bola agresif dan progresif yang ingin diterapkan Rossoneri dalam era baru mereka.
Meski begitu, jalan Milan untuk bangkit dipastikan tidak akan mudah. Setelah beberapa proyek gagal dalam beberapa tahun terakhir, tifosi Rossoneri kini mulai kehilangan kesabaran dan menuntut perubahan nyata dari klub kesayangan mereka.
Musim panas ini pun menjadi momen penting bagi AC Milan. Keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan diyakini akan menentukan apakah Rossoneri benar-benar mampu memulai era baru atau kembali terjebak dalam siklus kegagalan yang sama.
(sub)