- Instagram @dennylandzaat
Tak Bisa Disembunyikan Lagi, Patrick Kluivert Bongkar Kondisi Ruang Ganti Timnas Indonesia usai Gagal Lolos Piala Dunia 2026: Saat itu Mereka...
tvOnenews.com - Impian panjang Timnas Indonesia untuk tampil di Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan cara yang paling menyakitkan.
Setelah perjuangan selama 731 hari, pasukan Garuda harus mengubur mimpi mereka usai kalah tipis 0-1 dari Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi.
Hasil ini bukan sekadar kekalahan di atas kertas. Bagi para pemain, pelatih, dan jutaan pendukung, momen tersebut menjadi luka emosional yang dalam.
- AFC
Di pinggir lapangan, pelatih Patrick Kluivert terlihat menahan perasaan kecewanya.
Ia dua kali memukul kursi dengan tinjunya, lalu menutupi wajahnya, seolah tidak sanggup menerima kenyataan bahwa perjalanan panjang yang penuh keringat dan harapan itu harus berakhir di titik ini.
Sesaat kemudian, pelatih asal Belanda itu tampak menyeka wajahnya dengan handuk. Wajahnya tampak murung dengan mata berkaca-kaca.
Di lapangan, suasana sedih semakin terasa. Para pemain tidak kuasa menahan emosi mereka.
Gelandang Thom Haye menangis tersedu-sedu, membenamkan wajahnya di balik kaus setelah menerima pelukan simpati dari Jay Idzes.
Sementara itu, Ole Romeny terbaring lemas di rumput, tatapannya kosong, seolah pikirannya masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
- Kolase tvOnenews.com / REUTERS - Stringer
Di tengah keheningan itu, momen yang menyentuh terjadi ketika Zidane Iqbal, pencetak gol tunggal bagi Irak, mendekat untuk menghibur lawannya, sebuah bentuk penghormatan antar sesama pejuang di lapangan hijau.
Tak jauh dari sana, Ramadhan Sananta duduk terpaku di sisi lapangan, memandangi langit Jeddah dengan wajah tak percaya.
Seolah menanyakan pada dirinya sendiri, apakah ini benar-benar akhir dari mimpi besar yang telah mereka rawat bersama selama dua tahun terakhir.
Media Vietnam, Soha.vn, menggambarkan suasana di balik layar itu dengan jelas.
"Begitu berada di ruang ganti, suasana duka terus menyelimuti," tulis media tersebut.
Patrick Kluivert pun akhirnya angkat bicara tentang apa yang ia saksikan di ruang ganti timnas Indonesia.
Dengan suara berat, ia mengungkapkan betapa hancurnya perasaan para pemain setelah peluit panjang berbunyi.
"Pelatih Patrick Kluivert mengungkapkan, ia tidak tahu harus berkata apa karena terlalu memilukan menyaksikan penderitaan para pemain," tulis Soha.vn dalam laporannya.
Sambil mencoba menahan emosi, Kluivert tetap memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada skuad muda Indonesia.
"Mereka masih sangat muda, tetapi mereka menunjukkan semangat dan kualitas yang luar biasa, menampilkan performa yang baik melawan lawan yang peringkatnya jauh lebih tinggi di FIFA," ujar ahli strategi Timnas Indonesia asal Belanda itu.
"Sayangnya, kami kurang beruntung karena tidak bisa mencetak gol. Kami berusaha keras untuk mencapai tujuan, tetapi kemudian gagal," imbuhnya.
Ucapan itu menggambarkan betapa dalam rasa kehilangan yang dirasakan seluruh tim. Tidak ada yang bisa menyembunyikan kesedihan itu.
- AFC
Bahkan, bagi seorang pelatih sekelas Kluivert yang pernah mencicipi gemerlap sepak bola dunia, momen di ruang ganti malam itu menjadi salah satu yang paling berat dalam kariernya.
Perjalanan Indonesia menuju Piala Dunia 2026 sejatinya dimulai dengan penuh harapan. Pada 12 Oktober 2023, Indonesia membuka langkah dengan kemenangan meyakinkan 6-0 atas Brunei Darussalam di babak kualifikasi pertama.
Optimisme semakin tumbuh ketika di babak kualifikasi kedua, tim Garuda sukses menembus posisi kedua Grup F dengan 10 poin, bersaing dengan Vietnam, Irak, dan Filipina.
Di babak ketiga, Indonesia tampil berani melawan para raksasa Asia seperti Jepang, Australia, dan Arab Saudi.
Mereka bahkan mencatat kemenangan bersejarah atas Arab Saudi dan Tiongkok, membuktikan bahwa Garuda tidak lagi bisa diremehkan di pentas Asia.
Namun, di babak kualifikasi keempat, tahap terakhir sebelum mimpi itu benar-benar menjadi nyata, dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi dan Irak membuat langkah mereka terhenti.
Dua tahun kerja keras, disiplin, dan keyakinan itu pun runtuh dalam satu malam penuh air mata.
Bagi Patrick Kluivert, kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Tapi, ia tahu, luka yang ditinggalkan malam itu tidak akan cepat sembuh. (tsy)