- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
Jadwal Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 Dirombak, Garuda Muda Untung Besar atau Justru Dirugikan?
Thailand, sang tuan rumah, bahkan mengawali turnamen dengan kemenangan telak 6-1 atas Timor Leste di depan 7.741 penonton di Stadion Rajamangala. Sementara Vietnam harus bekerja keras sebelum menang tipis 2-1 atas Laos pada partai perdana Grup B.
Sementara Indonesia mendapat jeda singkat, Myanmar justru menjadi tim yang paling diuntungkan di Grup C. Mereka tampil pada 5 Desember dan baru bertanding lagi pada 12 Desember.
Ketimpangan jadwal ini memicu diskusi apakah Garuda Muda sedang diperlakukan tidak adil atau hanya perlu mengambil sisi positifnya.
Meski demikian, perubahan jadwal tetap mendapat sambutan baik dari Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji.
"Ya tentu saja bagus dong. Jadi kami hanya memainkan dua pertandingan melawan Myanmar dan Filipina," ujar Sumardji.
Situasi tanpa Singapura dianggap membuat perjalanan fase grup lebih padat, tetapi lebih ringan dari segi jumlah laga.
Posisi Indonesia sebagai juara bertahan juga membuat mereka tetap difavoritkan memuncaki grup dan melaju ke semifinal. Dari tiga juara grup, akan dipilih satu runner-up terbaik untuk melengkapi empat besar.
Pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri, turut menegaskan bahwa perubahan jadwal justru membuka peluang persiapan lebih matang.
“Awalnya tiga pertandingan, tapi berubah menjadi dua kali. Ini cukup positif bagi kami, termasuk perubahan jadwal laga pertama dari tanggal 5 ke 8. Perubahan ini memberi ruang persiapan lebih baik,” tutur Indra Sjafri dilansir dari laman Kita Garuda (4/12/2025).
Indra juga memastikan skuadnya telah lengkap berjumlah 23 pemain setelah kehadiran Rifqi Ray yang menggantikan Marselino Ferdinan, yang terpaksa dicoret karena cedera hamstring.
“Per hari ini, skuad kami sudah lengkap, 23 pemain sesuai regulasi... Para pemain siap bertanding pada laga pertama tanggal 8 dan laga kedua tanggal 12,” tegasnya.
Dengan demikian, secara teknis Indonesia memang dirugikan dari segi jeda istirahat, namun di sisi lain mereka diuntungkan dari jumlah pertandingan yang berkurang dan waktu persiapan yang lebih panjang.
Akhirnya, apakah ini memberi keuntungan atau justru kerugian? Jawabannya bergantung pada bagaimana Indonesia memanfaatkan momentum dan mengelola kebugaran pemain di bawah tekanan jadwal padat.