news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ketum PSSI, Erick Thohir dan Tim Geypens.
Sumber :
  • instagram Tim Geypens

Jurnalis Belanda Blak-blakan Sebut Pemain Timnas Indonesia Bodoh: Mereka Harusnya Tidak Tertipu

Kontroversi naturalisasi pemain Timnas Indonesia disorot media Belanda. Jurnalis Tijmen van Wissing ungkap risiko besar bagi karier pemain di Eredivisie.
Senin, 6 April 2026 - 10:10 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Gelombang naturalisasi pemain keturunan yang dilakukan PSSI dalam beberapa tahun terakhir kembali menuai perhatian, kali ini dari media Belanda.

Kritik datang dari jurnalis RTV Oost, Tijmen van Wissing, yang secara terbuka menilai keputusan sejumlah pemain memilih membela Timnas Indonesia belum dipertimbangkan secara matang.

Sorotan ini mencuat seiring laporan adanya peninjauan administratif oleh KNVB terkait status pemain yang kini tidak lagi memegang paspor Uni Eropa.

Perubahan kewarganegaraan tersebut berdampak langsung pada izin kerja dan regulasi ketat di kompetisi Belanda.

Beberapa pemain yang terdampak antara lain Justin Hubner, Dean James, Tim Geypens, hingga Nathan Tjoe-A-On.

Direktur Eredivisie Turun Gunung, Ungkap Masalah Terbesar Dean James dan Nathan-Tjoe-A-On di Klub-klub Liga Belanda, Ada Apa
Sumber :
  • instagram Dean James

Mereka dilaporkan tidak dapat tampil sementara waktu hingga proses administrasi dan izin kerja mereka disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

Dalam diskusi di program De Oosttribune, Van Wissing menyampaikan kritik keras terhadap para pemain muda yang dinilainya terlalu terburu-buru mengambil keputusan besar dalam karier mereka.

"Saya pikir itu jauh lebih bodoh dari para pemain dan agen mereka seharusnya memikirkannya dengan matang jangan terburu-buru. Tom Knipping dari Voetbal International menulis artikel yang sangat bagus tentang itu di Indonesia, aturannya menyatakan bahwa jika Anda memperoleh kewarganegaraan tersebut, Anda akan kehilangan paspor Belanda Anda," tegas Van Wissing.

Ia juga menyinggung kasus Tim Geypens yang dianggapnya sebagai contoh pemain muda yang terpengaruh oleh masifnya program naturalisasi.

"Geypens seharusnya tidak tertipu oleh kampanye Indonesia itu. Memang bagus mereka terbang ke sana, tetapi itu hanya berujung pada kesengsaraan," tambahnya.

Pernyataan tersebut memicu perdebatan, terutama di kalangan pengamat sepak bola Indonesia yang melihat naturalisasi sebagai strategi memperkuat daya saing tim nasional di level internasional.

Masalah utama bukan sekadar soal kewarganegaraan, tetapi juga dampak ekonominya di kompetisi Belanda seperti Eredivisie.

Berdasarkan regulasi, pemain non-Uni Eropa wajib menerima gaji minimum sekitar 608.000 euro per tahun.

Angka ini menjadi kendala serius bagi klub-klub, terutama yang berada di papan tengah atau bawah.

Banyak klub tidak mampu memenuhi standar tersebut, sehingga pemain berisiko kehilangan tempat di skuad utama.

Sebagai contoh, Dean James yang bermain untuk Go Ahead Eagles dikabarkan menerima gaji jauh di bawah batas minimum tersebut.

Situasi ini membuat statusnya sebagai pemain non-Uni Eropa menjadi beban administratif bagi klub.

Selain Dean James, nama seperti Mees Hilgers juga disebut berpotensi menghadapi tantangan serupa jika tidak ada penyesuaian kontrak sesuai regulasi.

Di sisi lain, PSSI menegaskan bahwa polemik ini tidak berkaitan dengan keabsahan pemain untuk membela Timnas Indonesia.

Federasi menyebut persoalan yang terjadi murni bersifat administratif antara klub dan federasi Belanda.

Artinya, meskipun mengalami kendala di level klub, para pemain tetap dapat memperkuat skuad Garuda di ajang internasional tanpa hambatan.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam sepak bola modern.

Banyak negara memanfaatkan diaspora untuk meningkatkan kualitas tim nasional.

Namun, kasus Indonesia menjadi sorotan karena jumlah pemain yang dinaturalisasi dalam waktu relatif singkat.

Di Eropa, keputusan berpindah kewarganegaraan memang membawa konsekuensi besar, mulai dari kehilangan status Uni Eropa, pembatasan transfer, hingga perubahan nilai pasar pemain.

Bagi para pemain, pilihan ini pada akhirnya menjadi pertaruhan antara peluang bermain di level internasional bersama Timnas Indonesia dan stabilitas karier di kompetisi Eropa.

Dengan situasi yang masih berkembang, menarik untuk melihat bagaimana pemain, klub, dan federasi menemukan solusi agar karier para pemain tidak terhambat, sekaligus tetap berkontribusi maksimal bagi sepak bola Indonesia.

(tsy)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:01
01:37
02:12
03:18
08:28
02:19

Viral