- Kolase tim tvOnenews
John Herdman vs Shin Tae-yong, Bung Binder Sebut Keduanya Sama-sama 'Gila' soal Satu Hal Ini
tvOnenews.com - Timnas Indonesia selalu berubah wajah setiap kali berganti pelatih.
Bukan sekadar soal susunan pemain, tapi juga menyangkut identitas permainan, bagaimana tim menyerang, bertahan, hingga mengatur tempo di lapangan.
Pengamat sepak bola nasional, Binder Singh, membedah perbedaan sekaligus persamaan filosofi tiga pelatih: Patrick Kluivert, Shin Tae-yong, dan John Herdman.
Hasilnya menarik, terutama ketika membandingkan Herdman dan Shin Tae-yong.
Di tangan Kluivert, Timnas Indonesia mencoba tampil agresif dengan gaya menyerang cepat. Bola didorong ke depan secepat mungkin untuk menekan lawan sejak awal laga.
Namun, pendekatan ini dinilai belum sepenuhnya cocok dengan karakter pemain Indonesia.
Jarak antar lini sering kali terlalu renggang, sementara tempo permainan terasa dipaksakan.
"Secara konsep tidak salah, tapi pertanyaannya apakah pemain kita mampu bermain dengan tempo tinggi, passing-passing cepat ke depan dengan tidak menjaga jarak di antara satu sama lainnya?," ujar Binder Singh.
Eksperimen formasi juga menjadi catatan. Kluivert sempat mengandalkan empat bek sebelum akhirnya kembali ke tiga bek setelah hasil yang kurang memuaskan.
Masuknya John Herdman membawa perubahan yang cukup signifikan. Permainan Timnas kini terlihat lebih terstruktur dan tidak terburu-buru.
- Istimewa /viva medan
Dalam fase build-up, Herdman kerap mengandalkan tiga bek tengah.
Pola ini memberi fleksibilitas bagi pemain sayap untuk membantu pertahanan maupun menyerang.
Binder menilai, pendekatan ini membuat pemain lebih nyaman di lapangan.
"Tapi di bawah Herdman saya melihat para pemain jaraknya dekat dan mereka tidak terburu-buru memberikan umpan. Jadi mereka tidak bermain di bawah beban. Ini kalau kita bandingkan dengan Patrick Kluivert," katanya.
Selain itu, keseimbangan antara menyerang dan bertahan menjadi lebih terasa.
Tim tidak lagi terlalu memaksakan tempo, melainkan bermain lebih cerdas dalam mengatur ritme.
Saat dilatih Shin Tae-yong, Timnas Indonesia dikenal dengan intensitas tinggi—khususnya dalam pressing.
Gaya bermainnya cenderung defensif-reaktif, tetapi sangat efektif saat menghadapi tim yang lebih kuat.
"Shin Tae-yong ingin para pemain bermain dengan intensitas pressing yang sangat kuat. Pokoknya kalau ada pemain menguasai bola, tutup itu pemain. Tekel tapi bukan untuk pelanggaran. Tekel, ambil bola, dapat bola, switching play harus cepat," ucap Binder.
Filosofi ini memanfaatkan keunggulan fisik dan energi pemain muda Indonesia, terutama dalam transisi cepat dari bertahan ke menyerang.
“Sama Gilanya”: Titik Temu Herdman dan Shin Tae-yong
Menariknya, Binder melihat satu kesamaan mencolok antara Herdman dan Shin Tae-yong: agresivitas dalam pressing.
"Dengan Shin Tae-yong, Timnas sering bermain defend and reactive football. Dia tahu bahwa pemain kita mayoritas pemain muda, punya level energi yang tinggi. Kalau kita bandingkan pressing dari Herdman, sama gilanya seperti era Shin Tae-yong."
Artinya, meski pendekatan build-up Herdman lebih rapi dan sabar, intensitas saat merebut bola tetap tinggi—bahkan setara dengan era Shin.
Perbedaannya terletak pada kematangan tim. Saat ini, skuad Garuda dinilai lebih siap secara mental dan taktik dibandingkan saat awal dibangun Shin Tae-yong.
Debut Herdman di FIFA Series 2026 memberikan sinyal positif.
Timnas Indonesia sukses menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis, meski kemudian kalah tipis 0-1 dari Bulgaria.
Binder melihat adanya perkembangan signifikan dari sisi kenyamanan bermain.
"Saya melihat para pemain kita enjoy the game, artinya pada saat pemain itu menikmati jalannya pertandingan, mereka nyaman dengan skema baru dari John Hadman yang saya melihat beda total," ucap Binder Singh.
Ia juga meyakini Herdman sudah mempelajari gaya permainan Timnas di era sebelumnya.
"Dua laga awal saya merasa lega bahwa kita dapat pelatih yang tahu apa yang perlu dilakukan. Feeling saya Herdman sudah menonton juga pertandingan Timnas ketika dilatih Shin dan Timnas ketika dilatih Kluivert. Jadi tahu kekurangan dan kelebihan," pungkasnya.
(tsy)