- tvOnenews-Julio Tri Saputra
Suporter Kecewa Timnas Indonesia Gagal di Piala AFF 2026, Bung Harpa: Kritik Itu Wajar
tvOnenews.com - Kekecewaan suporter Timnas Indonesia memuncak setelah skuad Garuda gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026. Hasil imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026), membuat Indonesia harus mengakhiri kiprahnya di fase grup.
Sejumlah suporter yang hadir langsung di stadion terlihat meluapkan kekecewaan kepada pemain dan tim pelatih. Mereka mempertanyakan penampilan Timnas Indonesia yang dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi setelah sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu kandidat kuat juara.
Indonesia hanya mampu mencetak satu gol dalam pertandingan tersebut. Hasil imbang itu membuat skuad Garuda finis di posisi ketiga Grup A dan kehilangan tiket ke semifinal.
- Instagram @fasingapore
Situasi bahkan sempat berlangsung emosional ketika salah seorang suporter meminta para pemain melepas jersey yang mereka kenakan. Momen tersebut menjadi gambaran besarnya kekecewaan setelah harapan Indonesia untuk melangkah lebih jauh di Piala AFF 2026 kembali kandas.
Bukan hanya kekecewaan, sejumlah komentar dan kritik di media sosial terhadap performa skuad Garuda turut menjadi sorotan.
Pengamat sepak bola nasional Bung Harpa memiliki pandangan berbeda mengenai kritik yang muncul di tengah masyarakat.
Menurutnya, kritik terhadap Timnas Indonesia tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai hujatan. Ia menilai sebagian besar komentar publik merupakan bentuk evaluasi terhadap performa pemain maupun tim di lapangan.
"Yang gua tahu, kalian boleh melihat video gue semua, gua juga perhatikan ada tim dari CBH komen-komen, 90 persen itu tidak ada yang menghujat pemain, mengkritik ya wajar lah di dimana, kita kerja pun kalau salah, dikritik sama atasan, bahkan sama bawahan pun kadang-kadang dikritik juga, itu biasa," ujarnya dilansir dari kanal YouTube pribadinya.
Bung Harpa kemudian memberikan contoh bahwa kritik terhadap penampilan pemain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Menurutnya, masyarakat tetap berhak menyoroti aspek permainan ketika seorang pemain dianggap belum tampil maksimal.
"Misalnya contoh, kok Eliano Reijnders bermain tidak banyak memberikan crossing, atau berapa kali hilang bola, masa nggak boleh? itu kan boleh," tuturnya.
Ia justru menilai penyebutan kritik sebagai hujatan berpotensi menempatkan publik seolah-olah berada di posisi berseberangan dengan Timnas Indonesia. Menurutnya, narasi semacam itu dapat mengalihkan perhatian dari persoalan sebenarnya yang perlu dibenahi.
"Seolah-olah kita yang disudutkan, bahwa kita menghujat pemain, dan playing victim, hujatlah kami katanya," pungkasnya.
Menurutnya, masih terdapat banyak pekerjaan rumah yang perlu mendapatkan perhatian dari PSSI maupun tim kepelatihan. Ia pun menilai sejumlah persoalan tersebut sebenarnya sudah terlihat dan menjadi bahan pembicaraan publik sejak lama.
"Masalah yang gua bahas di video gue sebelumnya itu banyak PR mungkin yang kalian juga bisa ngelihat kok, masalah-masalah di tim nasional kita itu seperti itu," ujarnya.
Bung Harpa kemudian menyinggung sejumlah aspek yang menurutnya perlu dievaluasi, mulai dari pemilihan pemain hingga berbagai detail persiapan Timnas Indonesia sebelum menghadapi Vietnam.
Ia juga menyoroti faktor di luar lapangan, termasuk lokasi hotel yang dinilai terlalu jauh. Selain itu, sikap pemain setelah pertandingan serta aspek teknis dan taktik juga disebutnya sebagai bagian dari persoalan yang layak dibicarakan secara terbuka.
"Kemudian juga soal attitude pemain setelah pertandingan, sial pemain, soal mungkin teknik taktik pertandingan. Ini kan sebenarnya sesuatu yang biasa kita obrolkan sejak dulu kita dimana-mana di ruang publik, di ruang tamu, di tongkrongan, itu biasa kita obrolkan," katanya.
Menurut Bung Harpa, keberadaan media sosial hanya mengubah cara masyarakat menyampaikan pendapat. Jika sebelumnya kritik lebih banyak dibicarakan di ruang-ruang informal, kini masyarakat dapat menyampaikannya secara langsung melalui kolom komentar dan berbagai platform digital.
"Sekarang bedanya orang bisa menuangkan di dalam bentuk komen, nah tentu saja tidak semua komen itu benar," tuturnya.
Karena itu, Bung Harpa menilai PSSI perlu mampu membedakan antara kritik, evaluasi, dan hujatan. Kritik terhadap performa pemain maupun kebijakan federasi, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika sepak bola selama disampaikan secara proporsional dan tidak berubah menjadi serangan pribadi.
Ia juga menilai PSSI perlu membenahi pola komunikasinya dengan publik. Menurutnya, respons yang lebih terbuka dan profesional akan membantu meredam polemik sekaligus mencegah munculnya narasi yang justru memperkeruh suasana di sekitar Timnas Indonesia.
Di sisi lain, kekecewaan suporter terhadap hasil di Piala AFF 2026 menunjukkan tingginya ekspektasi terhadap skuad Garuda. Karena itu, kritik publik seharusnya dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki berbagai kekurangan, bukan sekadar dipandang sebagai bentuk serangan terhadap pemain.
Yunus Nusi Minta Pemain dan Pelatih Tidak Dihujat
Sebelumnya, Yunus Nusi menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia setelah Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026.
Yunus mengaku menyaksikan langsung perjuangan skuad Garuda ketika menghadapi Singapura di Stadion Jalan Besar. Ia memahami kekecewaan masyarakat setelah Indonesia hanya mampu bermain imbang dan harus tersingkir dari turnamen.
"Kemarin saya menyaksikan langsung anak-anak bertanding di Stadion Jalan Besar, Singapura. Seperti yang kita lihat, anak-anak gagal melanjutkan ke fase berikutnya setelah bermain seri dengan Singapura," kata Yunus Nusi.
Timnas Indonesia mengakhiri fase grup dengan koleksi tujuh poin. Skuad Garuda mengawali turnamen dengan kemenangan atas Kamboja dan Timor Leste, kemudian kalah dari Vietnam sebelum ditahan imbang Singapura pada pertandingan terakhir.
Hasil tersebut membuat Indonesia finis di peringkat ketiga Grup A. Garuda hanya terpaut satu poin dari Singapura yang mengamankan posisi runner-up sekaligus tiket semifinal. Sementara itu, Vietnam keluar sebagai juara grup.
"Terkait hasil di Piala AFF ini, PSSI memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat sepak bola Indonesia karena belum bisa memberikan hasil yang memuaskan secara sempurna," ungkap Yunus Nusi.
Menurut Yunus, kegagalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi PSSI bersama Badan Tim Nasional, Komite Eksekutif, serta jajaran pelatih.
Ia menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya dilakukan ketika Timnas Indonesia mengalami kegagalan. Setiap kemenangan dan prestasi juga, menurutnya, harus menjadi bagian dari proses evaluasi untuk memastikan perkembangan tim terus berjalan.
"Ketua Umum PSSI selalu melakukan evaluasi. Tidak hanya saat menghadapi kegagalan, tetapi juga dalam setiap prestasi, keberhasilan, maupun kemenangan Timnas, seperti saat melawan Mozambik, Oman, atau saat Timnas Wanita meraih juara Piala AFF Putri di Malaysia," katanya.
Yunus juga meminta masyarakat tetap memberikan apresiasi kepada para pemain yang telah berjuang sepanjang turnamen. Ia meminta kekecewaan tidak dilampiaskan dalam bentuk hujatan kepada pemain maupun pelatih.
"Timnas kita yang telah berjuang harus tetap kita apresiasi. Silakan mengkritisi PSSI atau Ketua Umum, kami menerima. Namun, yang terpenting adalah jangan menghujat pemain dan pelatih," lanjutnya.
"Mereka adalah aset kita di masa depan. Masih ada harapan besar bagi anak-anak ini untuk membawa prestasi sepak bola kita menjadi lebih bagus," pungkas Yunus Nusi.