Imbas Perang di Kawasan Teluk, Harga Kedelai dan Plastik Naik
Jakarta, tvOnenews.com - Lonjakan harga kedelai impor akibat konflik di kawasan Teluk mulai berdampak pada produksi tempe dan tahu di sejumlah daerah.
Kenaikan bahan baku utama tersebut diperparah dengan meningkatnya harga kantong plastik yang digunakan sebagai kemasan, sehingga biaya produksi semakin membengkak.
Pengrajin tempe di Sunterjaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengeluhkan harga kedelai impor yang naik dari Rp920.000 per kuintal menjadi Rp1.100.000 atau meningkat sekitar 20 persen.
Meski biaya produksi meningkat, pengrajin mengaku belum berani menaikkan harga tempe karena khawatir penjualan menurun.
Kondisi serupa juga terjadi di sentra produksi tahu di Jalan Raya Puspiptek, Tangerang Selatan. Harga kedelai impor yang sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram mengalami kenaikan hingga 10 persen dan dikhawatirkan terus meningkat. Kenaikan tersebut turut menekan margin keuntungan pelaku usaha.
Selain kedelai, lonjakan harga plastik kemasan turut memperberat biaya produksi. Pengrajin tempe di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, kini harus membeli plastik pembungkus seharga Rp60.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp32.000.
Kenaikan hampir dua kali lipat tersebut turut mendorong harga tempe di pasaran Bekasi menjadi sekitar Rp12.000 per kilogram dari sebelumnya Rp9.700.
Kenaikan harga plastik juga berdampak pada pedagang kemasan. Pedagang plastik di Pasar Banjar, Jawa Barat, mengaku penjualan menurun karena pelaku usaha kecil mengurangi pembelian.
Harga kantong kresek naik dari Rp10.000 menjadi Rp17.000 per pak, sementara plastik bening melonjak dari Rp5.000 menjadi Rp20.000 per pak.
Di Kota Tegal, Jawa Tengah, harga kantong plastik kresek kini mencapai Rp30.000 per bungkus dari sebelumnya Rp23.000. Plastik bening untuk kemasan gula pasir dan minyak curah juga naik menjadi Rp23.000 dari Rp16.000 per bungkus.
Kenaikan harga bahan baku dan kemasan tersebut dinilai semakin menekan pelaku usaha kecil, khususnya produsen tempe dan tahu.