Menguak Penyebab Meninggalnya Dokter Icha, Paman Korban Beberkan Teror Misterius
Jakarta, tvOnenews.com – Kasus kematian dr. Eliza Priscilla Utami Pakaenoni atau dr. Icha yang bertugas di Rumah Sakit Leona, Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur, terus menjadi sorotan publik.
Keluarga menduga korban mengalami depresi berat akibat intimidasi, kekerasan verbal, dan teror yang dilakukan setelah menangani seorang pasien.
Paman korban, Fabianus Banase, mengatakan dr. Icha mengalami tekanan psikologis sejak peristiwa penanganan pasien darurat yang diduga memicu perselisihan dengan tiga oknum anggota DPRD Timor Tengah Utara.
Menurutnya, selain mendapat intimidasi secara langsung di rumah sakit, korban juga menerima pesan dan panggilan dari nomor tidak dikenal yang terus berlanjut setelah kejadian.
"Anak kami mengalami teror, intimidasi, dan kekerasan verbal. Setelah kejadian itu, setiap hari mendapat WhatsApp dari nomor-nomor yang tidak jelas hingga mengalami depresi berat," ujar Fabianus dalam Program Pagi-Pagi Seru.
Fabianus mengungkapkan, kondisi kejiwaan dr. Icha sempat diperiksa oleh tenaga medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban disebut mengalami depresi berat dengan gejala psikotik yang berisiko memicu percobaan bunuh diri.
Keluarga juga mengaku menemukan surat yang diduga ditulis korban sebelum meninggal dunia. Dalam surat tersebut, dr. Icha disebut menyampaikan keengganannya kembali bertugas di Timor Tengah Utara selama persoalan dengan tiga anggota DPRD belum memperoleh penyelesaian hukum.
Keluarga meminta kepolisian mengusut dugaan intimidasi tersebut secara menyeluruh. Mereka juga mendesak manajemen Rumah Sakit Leona bersikap kooperatif dengan menyerahkan rekaman CCTV kepada penyidik.
Selain itu, keluarga berharap pemerintah daerah dan partai politik tempat ketiga anggota DPRD bernaung memberikan sikap tegas terhadap dugaan tindakan yang menyebabkan tekanan psikologis kepada korban.
Fabianus menuturkan, saat insiden di instalasi gawat darurat (IGD), sejumlah anggota DPRD diduga melontarkan kata-kata bernada menghina dan mengancam korban saat mempertanyakan penanganan pasien.
Sementara itu, salah satu anggota DPRD Timor Tengah Utara yang disebut dalam perkara tersebut membantah telah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha.
Melalui pernyataan video, ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dr. Icha sekaligus memberikan klarifikasi terkait kejadian di Rumah Sakit Leona pada 13 Juni 2026.
Ia mengaku hanya mempertanyakan tindak lanjut penanganan pasien dan kualitas pelayanan rumah sakit.
Menurutnya, ucapan "panggil wartawan" yang sempat disampaikan bukan ditujukan kepada dr. Icha secara pribadi, melainkan sebagai usulan agar proses pelayanan kesehatan mendapat perhatian publik.
Ia juga menyatakan persoalan di rumah sakit telah diselesaikan saat itu juga, serta mengklaim dua rekannya telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak manajemen rumah sakit maupun kepada dr. Icha.
Hingga kini, kepolisian masih mendalami dugaan intimidasi dan kekerasan verbal yang disebut keluarga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi psikologis korban.