Viral! Latsarmil Kopdes Nenteng Senjata, Ini Tanggapan KSP Dudung Abdurachman
Jakarta, tvOnenews.com – Video yang memperlihatkan peserta latihan dasar militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih membawa senjata menjadi viral di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendidikan dasar kemiliteran.
Dalam video yang beredar, para calon manajer Kopdes Merah Putih tampak mengikuti latihan baris-berbaris sambil membawa senjata.
Dudung mengatakan materi tersebut merupakan pengenalan dasar kemiliteran yang lazim diberikan dalam pendidikan militer.
"Memang saya lihat, pendidikan militer itu rata-rata seperti itu. Pendidikan dasar kemiliteran," ujar Dudung.
Ia mengaku sempat mempertanyakan model latihan yang dijalankan sebelum mengetahui bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari materi dasar pendidikan militer.
Menurut Dudung, Indonesia menganut sistem pertahanan rakyat semesta yang terdiri atas komponen utama, komponen cadangan, dan komponen pendukung. Dalam sistem tersebut, masyarakat termasuk bagian dari komponen pendukung pertahanan negara.
"Karena memang kita ini menganut sistem pertahanan rakyat semesta. Jadi ada komponen utama, ada komponen cadangan, ada komponen pendukung. Komponen pendukung itu salah satunya adalah rakyat," katanya.
Dudung menjelaskan, berbeda dengan sejumlah negara yang menerapkan wajib militer atau wajib bela negara, Indonesia tidak mewajibkan seluruh warga mengikuti pendidikan militer. Namun, menurutnya, pemerintah telah memiliki regulasi yang mengatur mengenai bela negara.
Ia menambahkan, pembekalan dasar kemiliteran bertujuan mengenalkan kemampuan dasar kepada masyarakat agar siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam kondisi pertahanan negara.
"Kalau kemarin dilatih seperti itu, menurut saya pengenalan awal saja. Tidak kemudian bagaimana mengatasi musuh atau mengejar musuh. Itu khusus militer. Ini pengenalannya, suatu ketika nanti kalau terjadi perang dan rakyat dilibatkan, dia sudah terampil minimalnya seperti itu," ujarnya.
Dudung menegaskan latihan tersebut sebatas memberikan pengenalan dasar kemiliteran dan bukan pelatihan tempur sebagaimana yang dijalani prajurit militer.