news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pesan Tersirat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei: Yel-yel Kematin Trump Menggema

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:41 WIB
Reporter:

Jakarta, tvOnenews.com - Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinilai tidak hanya menjadi seremoni penghormatan terakhir, tetapi juga sarat pesan politik, baik untuk masyarakat Iran maupun komunitas internasional.

Analis hubungan internasional Pizaro Gozali Idrus mengatakan besarnya jumlah pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman menunjukkan kuatnya dukungan masyarakat Iran terhadap kepemimpinan negaranya meski tengah menghadapi tekanan dari luar.

"Pesan yang ingin disampaikan Iran adalah meskipun pemimpin mereka telah wafat, tongkat estafet kepemimpinan dan dukungan masyarakat terhadap para pemimpinnya tetap berjalan," ujar Pizaro dalam wawancara di tvOne.

Menurutnya, penggunaan bendera merah dalam prosesi pemakaman juga memiliki makna simbolis. Bendera tersebut, kata dia, merepresentasikan tuntutan sebagian masyarakat Iran agar pemerintah melakukan pembalasan atas kematian Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu, kehadiran delegasi dari berbagai negara juga dipandang sebagai pesan bahwa Iran tidak sepenuhnya terisolasi di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.

"Iran ingin menunjukkan bahwa mereka tetap mendapat dukungan dari berbagai negara dan tidak ditinggalkan oleh komunitas internasional," katanya.

Meski demikian, Pizaro menilai sebagian besar negara yang hadir diwakili oleh pejabat setingkat menteri atau diplomat, sementara jumlah kepala negara maupun kepala pemerintahan yang hadir secara langsung relatif terbatas. 

Kondisi tersebut, menurutnya, juga dapat dimaknai sebagai keberhasilan tekanan diplomatik Amerika Serikat terhadap sejumlah negara.

Pizaro juga menyoroti belum munculnya Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai salah satu figur penting dalam dinamika politik Iran.

Ia menilai absennya Mojtaba dari hadapan publik kemungkinan besar berkaitan dengan faktor keamanan.

"Jika Mojtaba muncul di depan publik, risikonya sangat besar karena bisa menjadi target serangan," ujarnya.

Menurut Pizaro, pengalaman pembunuhan sejumlah tokoh penting di kawasan menjadi pelajaran bagi Iran untuk memperketat pengamanan terhadap figur-figur strategis.

Selain faktor keamanan, ia menyebut Mojtaba juga dilaporkan masih menjalani pemulihan akibat cedera yang dialaminya sehingga belum memungkinkan tampil di depan publik.

Pizaro menilai pemerintah Iran saat ini berupaya menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional menjelang rencana perundingan lanjutan dengan Amerika Serikat, yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juli 2026.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:05
01:49
02:15
07:25
01:36
01:26

Viral