Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih di Tiga Wilayah Jawa Barat
Jakarta, tvOnenews.com - Musim kemarau yang berlangsung lebih dari dua bulan menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Jawa Barat, terutama di Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Pangandaran.
Mengeringnya sumur warga memaksa ribuan warga mengandalkan bantuan air bersih yang didistribusikan menggunakan truk tangki oleh pemerintah dan sejumlah instansi terkait.
Di Kabupaten Pangandaran, warga di Dusun Karanghonje dan Kawarasan, Kecamatan Padaherang, dilaporkan telah mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama lebih dari dua bulan akibat sumber mata air yang mengering.
Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Hegarsari dan sejumlah wilayah di Kota Banjar, di mana pasokan air bersih dari jaringan Perumda Air Minum belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan karena keterbatasan debit air.
Akibat keterbatasan pasokan, sebagian warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian.
Mereka berharap distribusi air bersih dapat dilakukan setiap hari karena bantuan yang datang secara berkala dinilai belum mencukupi kebutuhan harian masyarakat.
Sementara itu, warga Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, juga telah memasuki bulan ketiga menghadapi krisis air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) terus mengintensifkan penyaluran air bersih ke daerah terdampak menggunakan truk tangki.
Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, dampak kemarau juga dirasakan sektor pertanian. Di sejumlah daerah, petugas bendung mulai menerapkan sistem giliran distribusi air irigasi agar pasokan air dapat dimanfaatkan secara merata oleh para petani selama debit sungai terus menurun.
Pemerintah daerah di tiga wilayah terdampak juga telah mengambil sejumlah langkah penanganan. Pemerintah Kabupaten Ciamis menetapkan status siaga darurat kekeringan di beberapa kecamatan terdampak agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Di Kota Banjar, distribusi air difokuskan ke empat kecamatan yang mengalami penurunan debit air cukup signifikan, sedangkan di Kabupaten Pangandaran BPBD mencatat sedikitnya tujuh kecamatan mulai terdampak kekeringan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026.
BMKG juga mengingatkan potensi berkurangnya ketersediaan air bersih di wilayah yang bergantung pada sumur dangkal dan mata air, sehingga pemerintah daerah diminta mengantisipasi dampak kekeringan melalui penyediaan pasokan air bersih dan pengelolaan sumber daya air.