Fakta Baru Kasus Mutilasi Pria di Depok
Depok, tvOnenews.com - Polda Metro Jaya masih mencari potongan kaki korban pembunuhan disertai mutilasi yang diduga dibuang tersangka berinisial S ke aliran Kali Licin, Pitara, Depok, Jawa Barat. Pencarian dilakukan dengan melibatkan anjing pelacak.
Polisi mengungkapkan tersangka membunuh korban berinisial KF (51) setelah terjadi pertengkaran. Menurut penyidik, perselisihan dipicu ajakan korban untuk melakukan hubungan seksual yang ditolak pelaku.
Usai menangkap tersangka, polisi membawanya ke lokasi pencarian di Kali Licin, Pitara, Depok. Potongan kaki korban diduga dibuang dalam kantong plastik hitam, sedangkan bagian atas tubuh korban ditemukan di kawasan lapangan Kavling Depkes, Pancoran Mas.
Kasus ini terungkap setelah jasad korban ditemukan dalam kondisi termutilasi di sebuah lapangan tanah merah di Pancoran Mas, Depok, pada Selasa (4/8). Saat ditemukan, jasad korban berada di dalam karung dengan kondisi tangan terikat dan anggota tubuh tidak lengkap.
Berdasarkan hasil penyelidikan, korban dan pelaku diketahui berkenalan melalui media sosial. Polisi menduga perselisihan yang terjadi di antara keduanya berujung pada aksi pembunuhan dan mutilasi.
Psikolog forensik Universitas Gadjah Mada (UGM), Lucia Peppy, menjelaskan pembunuhan dan mutilasi merupakan dua tindakan yang tidak selalu berkaitan secara langsung.
Menurutnya, pembunuhan merupakan tindakan menghilangkan nyawa seseorang, sedangkan mutilasi adalah tindakan memotong tubuh yang dapat dilakukan dengan tujuan tertentu.
Lucia mengatakan berdasarkan berbagai kajian, mutilasi tidak selalu dilakukan oleh pelaku yang mengalami gangguan kejiwaan. Dalam banyak kasus, mutilasi dilakukan untuk menghilangkan jejak atau mempermudah pembuangan jenazah (defensive mutilation).
Namun, ia juga menyebut mutilasi dapat menjadi bentuk pelampiasan emosi atau agresivitas (offensive mutilation). Untuk memastikan motif pelaku dalam kasus ini, menurutnya diperlukan pemeriksaan psikologis secara langsung terhadap tersangka.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada kajian yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara orientasi atau aktivitas seksual dengan tindakan mutilasi.
Menurutnya, faktor yang lebih berperan adalah munculnya emosi negatif yang tidak terkendali, yang kemudian berkembang menjadi tindakan agresif hingga pembunuhan dan mutilasi.