Diprediksi El Nino Tahun Ini Lebih Kuat Dari El Nino Tahun 2015
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino turut memperparah kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan puncak musim kemarau pada Agustus dan September.
Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan kondisi El Nino saat ini belum mencapai puncaknya sehingga perbandingan dengan kondisi pada 2015 belum dapat dilakukan secara komprehensif.
Menurut Ida, kondisi El Nino diperkirakan masih aktif hingga awal 2027. Intensitasnya diperkirakan tetap kuat hingga akhir 2026.
Meski demikian, prediksi curah hujan menunjukkan sejumlah periode pada 2026 masih relatif lebih basah dibandingkan 2015. Indeks Nino 3.4 pada 2015 tercatat mencapai 2,57, sedangkan data terbaru pada 2026 berada di angka sekitar 2,20.
BMKG menjelaskan karhutla dipengaruhi tiga faktor utama, yakni kondisi atmosfer, sumber api, dan bahan bakar. Suhu tinggi, kelembapan rendah, curah hujan rendah, serta periode tanpa hujan yang panjang membuat vegetasi lebih mudah terbakar.
Kecepatan angin juga dapat mempercepat penyebaran api setelah kebakaran terjadi. Sementara itu, ranting, daun, dan vegetasi kering menjadi bahan bakar yang membuat api lebih mudah meluas.
El Nino berkontribusi terhadap kondisi atmosfer yang lebih kering dari biasanya. Kondisi tersebut diperkuat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut membuat wilayah Indonesia lebih kering.
BMKG juga menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan curah hujan di wilayah terdampak karhutla. Operasi tersebut dilakukan ketika kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan.
Menurut Ida, modifikasi cuaca dapat meningkatkan curah hujan lebih dari 30 persen dibandingkan kondisi normal ketika kondisi atmosfer memungkinkan.
Sejumlah wilayah menjadi sasaran operasi modifikasi cuaca. Operasi di Riau berlangsung hingga 29 Agustus, Sumatera Selatan hingga 26 Agustus, Kalimantan Barat pada 22–27 Agustus, Ketapang pada 23–27 Agustus, dan Berau, Kalimantan Timur, pada 24–28 Agustus.
BMKG juga merencanakan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah pada 25–29 Agustus melalui koordinasi dengan BPBD dan BNPB.
Namun, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Operasi tidak dapat bekerja maksimal apabila tidak terdapat pertumbuhan awan hujan yang dapat disemai.
Jika kondisi atmosfer tidak memungkinkan pelaksanaan modifikasi cuaca, penanganan kebakaran tetap mengandalkan pemadaman dari darat secara manual.