Pecah! Eksekusi Tanah di Takalar Berlangsung Ricuh
Kamis, 8 Juli 2021 - 10:00 WIB
Takalar, Sulawesi Selatan - Eksekusi tanah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan berlangsung ricuh. Polisi dan warga terluka akibat lemparan batu saat alat berat mulai memasuki lokasi eksekusi.
Eksekusi tanah tersebut terjadi di Desa Boddia, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kericuhan terjadi saat alat berat memasuki area lokasi eksekusi.
Warga yang tidak terima dengan keputusan pengadilan ini mencoba menghalangi petugas dan alat berat yang dikerahkan. Sejumlah warga yang didominasi oleh ibu rumah tangga ini nekat naik ke eskavator, namun petugas langsung mengamankannya hingga kericuhan tak dapat terhindarkan.
Polisi pun terpaksa menembakkan gas air mata dan warga membalas menyerang dengan melemparkan batu. Menurut warga, eksekusi tanah ini salah objek pasalnya lokasi yang dimenangkan oleh penggugat telah hilang akibat abrasi.
“Sebelum saya lahir sudah ada disini kemudian pihak penggugat ini yang terdiri dari 3 bersaudara. Namun tempat tinggalnya sudah dikikis oleh abrasi, diambil oleh ombak,” ujar Malli Dg Lewa, salah seorang warga sekitar.
Sementara itu, menurut juru sita Pengadilan Negeri Takalar ada 9 rumah yang telah dieksekusi oleh Pengadilan sesuai hasil putusan Pengadilan yang dimenangkan oleh pemohon. “Ada 9 rumah yang lainnya itu ada 1 dan sudah dibongkar sendiri,” kata Syaiful selaku Juru Sita Pengadilan Takalar.
Lebih lanjut Ia mengatakan jika eksekusi lahan ini terjadi antara penggugat dengan tergugat yang bernama Khairudin. Meski demikian, hingga hari Rabu (7/7) siang tadi eksekusi tanah masih berlangsung dan sejumlah warga masih memilih warga di lokasi.
Dalam peristiwa eksekusi lahan di Takalar, Sulawesi Selatan ini, warga dan polisi yang terlibat langsung dikabarkan beberapa diantara mereka mengalami luka. Meskipun demikian, warga setempat yang tak ingin rumahnya dieksekusi pembongkaran paksa ini terus melawan petugas kepolisian.
Tampak dalam peristiwa ini didominasi para ibu rumah tangga yang bersikeras menolak terjadinya eksekusi lahan. Banyaknya warga membuat para petugas kepolisian ini mengambil langkah tegas, bahkan polisi sempat mengeluarkan tembakan gas air mata. (adh)