- Istimewa
Implementasi ESG, Gerbangtara Lanjutkan Gerakan 2.000 Pohon untuk Kaltim
Samarinda, tvOnenews.com – Konsorsium Gerbangtara melalui ENABLE Project melanjutkan implementasi program ESG Climate Action: 2.000 Pohon untuk Kalimantan Timur (Kaltim) melalui aksi penanaman pohon di Kelurahan Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda.
Program tersebut menjadi bagian dari komitmen satu tahun yang dijalankan bersama berbagai mitra untuk mendorong aksi iklim berbasis kolaborasi sekaligus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di Kalimantan Timur.
Melalui program ESG Climate Action, Konsorsium Gerbangtara menargetkan penanaman dan pendampingan 2.000 pohon di lima wilayah Kalimantan Timur, yakni Kabupaten Paser, Kota Balikpapan, Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Penajam Paser Utara.
Program ini tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga memastikan keberlanjutan melalui proses monitoring, pemeliharaan, dan pelaporan dampak yang terukur.
Koordinator Konsorsium Gerbangtara, Aie Natasha, menjelaskan bahwa ESG Climate Action dirancang sebagai gerakan kolaboratif yang menghubungkan sektor swasta, komunitas, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan dampak keberlanjutan yang terukur.
“Kami ingin menunjukkan bahwa aksi iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, ESG Climate Action dibangun sebagai ruang kolaborasi yang memungkinkan setiap pihak berkontribusi sesuai kapasitasnya, mulai dari masyarakat, komunitas lokal, pemerintah, hingga sektor swasta. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi dari kemampuan memastikan pohon tersebut tumbuh, memberikan manfaat, dan menciptakan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Aie, Selasa (9/6/2026).
Aie memaparkan program ini merupakan komitmen satu tahun yang akan dilaksanakan di berbagai wilayah Kalimantan Timur dengan melibatkan mitra lokal sebagai ujung tombak implementasi di lapangan.
Menurutnya setiap lokasi akan mendapatkan pendampingan dan pemantauan berkala setiap tiga bulan untuk memastikan keberlanjutan program.
“Kami ingin membangun model aksi iklim yang akuntabel dan terukur. Karena itu, setiap pohon yang ditanam akan dimonitor secara berkala dan pada akhir program kami akan menyusun laporan dampak yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan demikian, para mitra dapat melihat secara nyata manfaat yang dihasilkan dari kolaborasi ini,” kata Aie.