- tangkapan layar Youtube Bukan Kaleng-Kaleng
Defisit APBN Kuartal I Pecahkan Rekor, Ternyata Ada Strategi yang Disiapkan
“Dulu itu bulan November, Desember, dipusatkan belanja. Tetapi kalau dilakukan di akhir, dampak ekonominya sangat pendek dirasakan,” ujarnya.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, lanjut Dony, memilih mengubah pola tersebut dengan mempercepat realisasi belanja sejak awal tahun. Dengan demikian, proyek pembangunan, program sosial, dan kegiatan ekonomi dapat berjalan lebih cepat serta memberikan efek berganda yang lebih panjang terhadap pertumbuhan ekonomi.
Untuk menggambarkan logika tersebut, Dony memberikan ilustrasi sederhana.
“Misalkan kita punya belanja seribu. Mau dipakai di awal, di tengah, atau di akhir, jumlahnya akan sama, tetap seribu. Kalau di ujung, dampaknya sangat pendek kita rasakan. Kalau dioptimalkan di awal, dampaknya akan lebih panjang. Tapi total belanjanya sama,” katanya.
Pemerintah Pastikan Defisit Tetap Dalam Koridor Aman
Meski defisit melebar, Dony menepis kekhawatiran bahwa pemerintah akan menghabiskan anggaran tanpa kendali hingga memicu lonjakan utang.
Menurutnya, sistem fiskal Indonesia memiliki pagar pengaman yang sangat jelas. APBN hanya dapat dijalankan sesuai ketentuan yang telah disetujui DPR, sementara batas defisit maksimal tetap dijaga pada level 3 persen terhadap PDB.
“Belanja kita itu ada limitnya. APBN kita ada batasnya, dan itu diputuskan atas persetujuan DPR. Jadi tidak bisa tiba-tiba pemerintah belanja suka-sukanya. Apalagi rezim fiskal kita mengenal batas, tidak boleh lebih dari 3 persen. Jadi impossible,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penerimaan negara mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal kedua tahun ini.
“Kuartal kedua ini justru terjadi peningkatan pendapatan dari sisi pajak kita yang cukup signifikan,” ujarnya.
Karena itu, menurut Dony, melihat kondisi fiskal hanya berdasarkan angka kuartal pertama dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang utuh.
Belanja Negara Dinilai Jadi Kunci Mendorong Pertumbuhan
Dony juga menanggapi kritik yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 terlalu bergantung pada belanja pemerintah. Menurutnya, pandangan tersebut mengandung miskonsepsi dalam memahami sumber pertumbuhan ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi ditopang oleh empat komponen utama, yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor neto. Dari keempat komponen tersebut, pemerintah memiliki kendali paling besar pada dua instrumen, yaitu belanja negara dan penciptaan iklim investasi.