- Istimewa
Kisah Jatuh-Bangun Pengusaha Limbah Sabut Kelapa di Padang
Padang, tvOnenews.com - Iga Analusya yakni perempuan berusia 32 tahun asal pesisir Padang ini menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pinjaman, yaitu ruang untuk belajar, berinovasi, dan memberdayakan lingkungan sekitarnya lewat usaha kerajinan Farilla Craft saat dirinya bergabung dengan PNM Mekaar.
Sebab, Farilla Craft lahir dari kejelian Iga melihat peluang di tempat yang sering diabaikan orang lain.
Ia mengolah limbah sabut kelapa yang menumpuk di sekitar pesisir tempat tinggalnya menjadi produk kerajinan tangan bernilai jual tinggi, mulai dari tas, dompet, hingga pot dan dekorasi bernuansa natural.
Gagasan ini bermula dari pelatihan pengolahan sabut kelapa yang ia ikuti pada 2021 saat sejumlah narasumber didatangkan untuk membekali warga pesisir dengan keterampilan baru.
“Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar,” ujar Iga, mengenang awal mula usahanya bersama sang suami yang berperan sebagai desainer produk.
Iga mengatakan pencapaian yang lebih berarti datang dari sisi lain PNM yang jarang disadari nasabah, yaitu pemberdayaan lewat pelatihan dan pendampingan.
Keikutsertaannya dalam program Mekaarpreneur 2026, yang mengantarkannya masuk 120 besar, membuka wawasannya tentang pengelolaan usaha berbasis teknologi hingga strategi promosi di media sosial.
“Kalau jadi orang biasa mungkin PNM itu ya cuma untuk pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, kita jadi lihat ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat,” kata Iga.
Wawasan itu pula yang mendorongnya terus berinovasi menyesuaikan produk dengan selera pasar generasi muda, tanpa meninggalkan sentuhan tradisional yang menjadi ciri khas Farilla Craft.
Iga menyebut kunjungan mahasiswa untuk studi banding ke tempat usahanya turut memberi inspirasi baru dalam mengemas produk secara lebih modern dan eksklusif.
Direktur Utama PNM, Kindaris mengatakan pihaknya mendorong ibu-ibu nasabah PNM Mekaar untuk jeli melihat peluang usaha dari hal sekecil apapun.
“Ibu Iga adalah contoh nyata bahwa modal hanyalah awal, tapi ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan,” kata Kindaris.(raa)