- Tangkapan layar
Teriak-teriak Cari Linggis, KDM Turun Evakuasi Korban Bencana Longsor di Bandung Barat
tvOnenews.com — Bencana tanah longsor melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Sabtu (24/1/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa dan menyisakan duka mendalam. KDM turun langsung.
Proses evakuasi korban berlangsung penuh tantangan. Cuaca buruk serta luasnya area longsoran menyulitkan petugas gabungan dalam melakukan pencarian dan pengangkatan jenazah.
Kesulitan evakuasi bahkan sempat diwarnai terbatasnya peralatan di lapangan. Kondisi itu tidak hanya dialami petugas, tetapi juga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang turun langsung membantu proses evakuasi korban.
Di lokasi kejadian, Dedi terlihat beberapa kali berteriak meminta linggis kepada petugas.
“Linggis mana, linggis,” teriak Dedi, dilansir dari kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Minggu (25/1/2026).
- Tangkapan layar
Permintaan tersebut dilakukan karena salah satu korban ditemukan dalam kondisi terjepit batu besar dan batang pohon, sehingga membutuhkan alat khusus untuk proses evakuasi.
“Ada korban yang sedang tidur, tergulung kasur dan selimut, lalu tertimpa batu dan pohon. Itu yang membuat evakuasi sangat sulit,” ujar Dedi.
Setelah beberapa saat, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman akhirnya datang membawa linggis yang dibutuhkan.
Proses evakuasi juga sempat terhambat akibat banyaknya warga yang memadati lokasi untuk melihat langsung kehadiran Dedi Mulyadi.
Di tengah upaya evakuasi korban yang terjepit material longsor, warga yang ikut melakukan pencarian mendadak menemukan dua korban lainnya.
“Ini ada satu, tolong, tolong,” teriak warga.
“Ada dua korban,” seru warga lainnya.
Petugas gabungan yang tengah mengevakuasi korban pertama langsung berlari menuju lokasi teriakan warga. Dengan lantunan lafaz laa ilaha illallah, petugas akhirnya berhasil mengangkat korban yang terjepit batu dan pohon.
Jenazah korban kemudian dibawa menggunakan ambulans untuk proses identifikasi. Tak berselang lama, dua korban lain juga berhasil dievakuasi oleh warga bersama petugas.
Hingga saat ini, identitas tiga korban tersebut belum diketahui dan akan diserahkan kepada tim DVI untuk proses identifikasi lebih lanjut.
“Kita belum bisa mengidentifikasi. Fokus saya hari ini adalah mengangkat jenazah secara bertahap, kemudian melakukan pemulihan lingkungan,” kata Dedi.
- Tangkapan layar
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan komitmennya untuk memberikan bantuan sebesar Rp10 juta per kepala keluarga (KK) kepada para korban terdampak longsor. Ia juga membawa sebanyak 1.000 kotak nasi untuk para pengungsi.
“Nanti bantuannya Rp10 juta per kepala keluarga, dipakai untuk ngontrak dulu, di mana saja terserah,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, para pengungsi berpotensi mengalami tekanan psikologis jika terlalu lama tinggal di posko pengungsian.
“Kalau di sini terus, tambah stres, bisa jadi penyakit,” ucapnya.
Ia pun menginstruksikan Sekda Jabar Herman Suryatman untuk segera menyiapkan alokasi anggaran bantuan tersebut.
Bantuan itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar korban, sehingga pemerintah bisa lebih fokus pada pencarian korban yang masih tertimbun dan pemulihan pascabencana.
“Rp10 juta per kepala keluarga untuk kontrakan dan bekal hidup sekitar dua bulan, supaya kita fokus pada recovery dan penyelesaian pencarian korban,” jelas Dedi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa bencana alam dapat menimpa siapa saja, termasuk mereka yang tidak secara langsung menyebabkan bencana tersebut.
“Longsor di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa bencana bisa menimpa siapa saja,” kata Dedi.
Ia menyoroti perubahan fungsi alam, seperti lereng gunung yang dialihfungsikan menjadi lahan sayuran dan kebun bunga dengan sistem green house berbahan plastik.
“Itu fakta bahwa kita telah berbuat salah terhadap kawasan perbukitan,” ujarnya.
Dedi juga menyinggung alih fungsi sawah menjadi perumahan serta pendangkalan sungai sebagai bentuk ketidakpedulian manusia terhadap alam.
Orang nomor satu di Jawa Barat itu mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan introspeksi dan mulai menghentikan perilaku yang merusak lingkungan.
“Sudah saatnya kita mengubah perilaku buruk yang menjadikan alam sekadar objek eksploitasi, tanpa memperhatikan keharmonisan dan keselarasan hidup,” tuturnya.
Tak hanya masyarakat, Dedi juga meminta pemerintah untuk berani mengakui kesalahan dalam pengelolaan lingkungan.
“Pemerintah harus sadar akan kesalahannya, masyarakat juga harus sadar bahwa tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan menjadi bencana dan menimpa siapa pun,” pungkas Dedi Mulyadi.