- Istimewa
Halau Tongkang Hanyut dan Selamatkan Kapal Patroli, PHE ONWJ Sukses Hindari Insiden Laut
tvOnenews.com - Dalam kurun waktu sepekan, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menunjukkan kesigapan dalam mengelola risiko operasional di tengah laut lepas, baik dalam menjagaaset vital negara maupun merespons panggilan kemanusiaan.
Perusahaan migas ini berhasil mengamankan dua situasi krusial. Setelah memitigasi risiko hanyutnya tongkang raksasa yang mendekati anjungan migas, tim PHE ONWJ kembali bergerak membantu evakuasi kapal patroli milik Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Jakarta, KM Celurit 203, yang mengalami kendala mesin.
Situasi darurat pertama terjadi pada Kamis malam(22/1). Tongkang Karunia Samudera 1 yang ditarik kapal Citeureup-1 mengalami mati mesin dan kehabisan bahan bakar. Terbawa arus laut, tongkang tersebut bergerak memasuki zona terbatas, berjarak sekitar 80 meter dari Anjungan Lepas Pantai EH, fasilitas tanpa awak PHE ONWJ yang tengah berproduksi.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menekankan bahwa bekerja di lepas pantai berarti harus siap hidup berdampingan dengan segala kondisialam. Baginya, insiden malam itu menuntut ketenangan dan perhitungan matang untuk mengarahkan Kembali tongkang ke jalur aman tanpa menimbulkan gesekan.
"Bekerja di laut mengajarkan kami untuk selalu waspada terhadap perubahan kondisi sekecil apa pun. Malam itu, saat radar mendeteksi pergerakan tongkang yang mendekati area produksi karena terbawa arus, prioritas kami adalah memastikan koeksistensi yang aman antara fasilitas negara dan lalu lintas laut. Kami harus bertindak presisi agar kedua aset ini tetap utuh," ujar Wira, sapaan akrabnya.
Wira menjelaskan, tim di lapangan mengarahkan TB Sejahtera untuk melakukan pendampingan dan pengarahan jalur (towing). Langkah ini diambil untuk memastikan tongkang tersebut tidak menyentuh fasilitas produksi di tengah kondisi cuaca yang dinamis.
"Ini adalah bentuk tanggung jawab kami dalam menjaga amanah konstitusi dan visi kemandirian energi yang dicanangkan Pemerintah. Kami memastikan aktivitas hulu migas berjalan selaras dengan lingkungan sekitarnya. Jika terjadi insiden, dampaknya bukan hanya pada produksi, tapi juga ekosistem laut yang harus kita jaga bersama," tegas Wira.
Kesiapan tim PHE ONWJ kembali teruji pada Jumat dinihari (30/1). Kali ini, semangat gotong royong diuji ketika Kapal Patroli KM Celurit 203 yang membawa 15 personel mengalami mati mesin total di antara area Anjungan Bravo dan Anjungan Echo. Tanpa daya dorong, kapal tersebut membutuhkan asistensi segera.