- Istimewa
FOKAL 2026: Kolaborasi Akademisi dan Aktivis Menjawab Krisis Lingkungan
tvOnenews.com - Indonesia saat ini menghadapi tiga krisis lingkungan yang saling berkaitan, yakni persoalan sampah, pencemaran air, dan perubahan iklim. Ketiga isu ini tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga mempengaruhi kesehatan masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, kesadaran dan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap permasalahan lingkungan masih harus ditingkatkan. Hal ini menjadi salah satu hal yang diangkat dalam acara Forum Akademisi dan Aktivis Lingkungan (FOKAL) dengan tema “Waste, Water, and Climate: Where Knowledge Meets Collective Action”, yang diadakan Ikatan Alumni Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (IATL ITB) hari Rabu (8/4) di Aula Timur ITB, Bandung.
Influencer yang sudah dikenal sebagai pegiat lingkungan, Pandawara, mengungkap fakta mengejutkan di awal-awal mereka menjalankan aksi clean up.
“Sebelum kami membersihkan saluran air, kami minta izin dulu pada Pak RW setempat, lalu setelah kami selesai, ditanya mana uang kopi, yang ada kan harusnya kami yang membersihkan yang dapat kopi,” kelakar salah satu anggota Pandawara, Rifki Sa’dulah.
“Secanggih-canggihnya teknologi, tanpa kesadaran yang dibangun di masyarakat, di pemerintah, di komunitas, di pribadi masing-masing, maka akan percuma,” katanya lagi.
Selain unsur kesadaran yang rendah, yang tak kalah penting adalah mengubah stigma yang sudah telanjur ada di masyarakat.
“Masyarakat masih menganggap kegiatan membersihkan lingkungan, mengurus sampah, itu sebagai sesuatu yang hina, yang kucel, ini yang perlu diubah supaya masyarakat melihat bahwa menjaga lingkungan itu sesuatu yang keren,” rekan Rifki, Mochamad Agung Permana, menambahkan.
Di sisi pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat memandang pentingnya kolaborasi dan kepercayaan sebagai faktor penting yang perlu ada dalam mengatasi masalah lingkungan.
“Tujuan harus jelas, platformnya harus sama, dan yang paling penting ada trust. Kolaborasi penting namun perlu ada tiga unsur utama tersebut,” jelas Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Helmi Gunawan.
- Istimewa
Dari kacamata ilmiah, semua akademisi yang hadir mengusung satu kesimpulan yang sama, bahwa kondisi dan tujuan prioritas harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih skema maupun teknologi terbaik yang solutif untuk masa depan lingkungan Indonesia, seperti disampaikan Wakil Rektor ITB sekaligus dosen Teknik Lingkungan, Prof. Agus Jatnika Effendi.