- ANTARA
Bukan Klenik, Ini Penjelasan Ilmiah Ahli BRIN Soal Mahkota Binokasih yang Baru Selesai Dikirab Dedi Mulyadi
Saat Pajajaran runtuh, mahkota tersebut diselamatkan oleh empat utusan dan diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.
Ahli Arkeometalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Harry Octavianus Sofian memaparkan analisis mendalam bahwa desain Mahkota Binokasih mengadopsi konsep Kosmologi Tritangtu yakni tiga unsur hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
- Ist
Harry menguraikan, struktur mahkota tersebut merepresentasikan tiga pilar kepemimpinan Sunda kuno:
1. Bagian Atas (Rama/Pemimpin Spiritual): Berbentuk stupa dengan ornamen bunga teratai, melambangkan kelompok rohaniawan yang memancarkan kebijaksanaan, nilai adat, dan keindahan budi pekerti yang bermanfaat bagi orang banyak.
2. Bagian Tengah (Ratu atau Prabu/Eksekutif): Memiliki desain daun segitiga serta ornamen Garuda Mungkur di bagian belakang. Bagian ini melambangkan ketegasan pemimpin dalam merumuskan undang-undang, serta kewajiban melindungi rakyatnya dengan keberanian layaknya kesatria.
3. Bagian Bawah (Resi/Intelektual): Memiliki makna mendalam yang berakar pada ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati (Raja Sunda-Galuh abad ke-14). Bagian dasar ini mewakili kaum intelektual, penasihat, dan orang-orang bijak yang bertugas menyuplai ilmu pengetahuan dan pertimbangan logis bagi kerajaan.
Mengingat nilai historis dan filosofisnya yang sangat tinggi, momentum pembawaan Mahkota Binokasih dalam rangkaian Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 ini menjadi kesempatan emas bagi masyarakat Jawa Barat untuk melakukan napak tilas dan mengenali jati diri kebudayaan mereka secara ilmiah.