- ANTARA
Soal Pola Pikir Mistis Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih, KDM Inisiasi Kajian Ilmiah
Merujuk pada catatan naskah kuno "Carita Parahyangan", mahkota emas murni tersebut awalnya ditempa di Kerajaan Galuh sebagai simbol legitimasi kekuasaan kedaulatan Sunda.
Mahkota tersebut kemudian dievakuasi dan diselamatkan oleh empat utusan sakti Pajajaran (Kandaga Lante) untuk diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di saat ibu kota kerajaan runtuh.
- Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel
Dari sisi struktur dan anatomi artefak, Ahli Arkeometalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harry Octavianus Sofian, menganalisis bahwa Mahkota Binokasih mengadopsi konsep filosofi Kosmologi Tritangtu.
Konsep ini mengatur tentang keselarasan vertikal dan horizontal antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, yang kemudian diterjemahkan ke dalam desain tiga komponen peranan kepemimpinan Sunda kuno: Rama, Ratu/Prabu, dan Resi.
Rama: Sebagai representasi dari pemimpin spiritual, diposisikan pada pucuk mahkota berbentuk stupa dengan hiasan bunga teratai, melambangkan kebijakan murni yang memancarkan manfaat bagi masyarakat luas.
Ratu/Prabu: Berada di bagian tengah, dilengkapi dengan desain daun segitiga serta ornamen Garuda Mungkur di sisi belakang. Ornamen ini melambangkan keberanian ksatria seorang pemimpin dalam melindungi rakyat serta merumuskan hukum yang adil.
Resi: Terletak pada bagian dasar mahkota, merepresentasikan peranan kaum intelektual dan penasihat bijak. Desain dasar ini sarat akan manifestasi ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati—raja Sunda-Galuh abad ke-14 yang meletakkan fondasi spiritualitas tatanan hidup masyarakat.
Sebagai bagian dari edukasi publik, Mahkota Binokasih sendiri saat ini telah diarak ke sejumlah wilayah di Jawa Barat dalam rangkaian acara Milangkala Tatar Sunda.
Agenda ini sekaligus berfungsi sebagai sarana napak tilas historis yang valid dan nyata bagi masyarakat Jawa Barat di akar rumput.