news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Museum ITB..
Sumber :
  • Antara

Museum ITB, Ruang Baru untuk Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan

Museum ITB tidak hanya bicara soal ruang pamer, artefak, arsip, dan teknologi imersif. Tidak pula hanya bicara soal gedung, koleksi, dan catatan sejarah kampus.
Minggu, 5 Juli 2026 - 18:11 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Museum ITB tidak hanya bicara soal ruang pamer, artefak, arsip, dan teknologi imersif. Tidak pula hanya bicara soal gedung, koleksi, dan catatan sejarah kampus. Ia menyangkut cara sebuah perguruan tinggi merawat ingatan, menghidupkan kembali jejak ilmu pengetahuan, serta menyiapkan generasi baru untuk membaca masa lalu sebagai bekal membangun masa depan.

tvOnenews.com - Di lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Jumat, 3 Juli 2026, sejarah tidak lagi hanya disimpan dalam arsip, album foto, atau ingatan para alumninya. Ia dipanggil kembali ke ruang publik, diberi cahaya, suara, narasi, dan teknologi. Di sanalah Museum ITB diresmikan, bertepatan dengan rangkaian peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia. 

Peresmian itu bukan sekadar seremoni pengguntingan pita. Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir bersama Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Di tengah para undangan, tampak pula sejumlah tokoh yang memberi bobot historis dan simbolik bagi acara tersebut: Sinta Nuriyah Wahid, Dato’ Low Tuck Kwong, Prof. Purnomo Yusgiantoro, Yani Panigoro, Subakat Hadi, serta Nyoman Nuarta. Nama-nama itu hadir bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari lanskap kolaborasi yang membuat museum ini berdiri. 

Museum ITB dibuka sebagai ruang pelestarian sejarah, pusat edukasi, dan sumber inspirasi bagi generasi mendatang. Tugu Bandung mencatat museum ini menampilkan perjalanan 106 tahun ITB, mulai dari perkembangan institusi, kontribusi di bidang pendidikan, sains, teknologi, seni, hingga peran tokoh dan alumninya dalam pembangunan bangsa. 

Namun, di balik kalimat-kalimat resmi itu, Museum ITB sesungguhnya membawa pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sebuah perguruan tinggi menyimpan ingatan tentang dirinya, lalu mengubah ingatan itu menjadi daya dorong untuk generasi berikutnya?

Dari Buku Induk Bung Karno hingga Teater Dome
Seusai meninjau ruang pamer, Fadli Zon menyebut Museum ITB sebagai pameran yang “luar biasa”. Yang ia lihat bukan hanya benda, melainkan perjalanan panjang sebuah institusi.

“Saya baru saja menyaksikan satu pameran yang luar biasa, perjalanan dari ITB, mulai dari pendirian. Bahkan kita bisa lihat buku induk, rapornya Bung Karno, kemudian pengalaman-pengalaman tentang teknologi,” ujar Fadli.

Ia juga menyoroti kehadiran ruang dome, tempat pengunjung dapat menyaksikan film imersif tentang teknologi, alam semesta, dan rasa ingin tahu manusia yang melahirkan sains. Bagi Fadli, pendekatan itu membuat museum tidak berhenti sebagai ruang pajang, tetapi bergerak menjadi ruang pengalaman.

“Museum ITB ini semangatnya sama dengan apa yang sekarang sedang dikembangkan ke arah STEM: Science, Technology, Engineering, and Math. Kita harapkan semakin banyak siswa SD, SMP, SMA, dan masyarakat umum datang ke Museum ITB ini,” katanya.

Fadli menilai museum tersebut memberi “inspirasi, refleksi, dan edukasi” melalui narasi yang baik, tata pamer yang kuat, dan pendekatan partisipatif. Menurut dia, museum masa depan tidak bisa lagi memperlakukan pengunjung semata sebagai penonton pasif.

“Museum ke depan itu harus ada partisipasi dari para pengunjung. Mereka bukan hanya sebagai objek, tetapi juga berpartisipasi di dalam experience museum,” ujarnya.

Dalam pengamatannya, Museum ITB telah mengadopsi pendekatan yang lazim ditemui di museum-museum dunia: visualisasi digital, audio interaktif, dan pengalaman imersif. 

“Intervensi digitalnya sudah sangat banyak, immersive, dan lain-lain. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan contoh untuk museum yang lain, baik perguruan tinggi maupun museum-museum pada umumnya,” kata Fadli. 

Pernyataan serupa juga dicatat ANTARA, yang menyebut Museum ITB membawa standar baru bagi permuseuman nasional karena pemanfaatan teknologi digital dan pengalaman imersif. 

Museum sebagai Ruang Pertemuan Lintas Generasi
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara melihat museum ini dengan tekanan yang berbeda. Ia tidak menempatkan museum terutama sebagai gedung, melainkan sebagai wadah pengetahuan.

“Hari ini tanggal 3 Juli 2026 kita meresmikan Museum ITB. Sebagaimana tadi disampaikan Pak Menteri, ini adalah museum yang bukan hanya sekadar gedung museum saja. Yang lebih penting itu kontennya. Jadi kita bisa melihat sejarah, kemudian belajar di dalamnya, dan juga melihat masa depan,” ujar Tatacipta.

Bagi Tatacipta, Museum ITB harus dapat ditemui oleh berbagai lapisan usia. Anak-anak harus bisa berinteraksi. Orang tua harus bisa belajar. Para senior harus bisa bernostalgia. Museum itu, dengan demikian, menjadi semacam ruang perjumpaan.

“Kita mendesain museum ini untuk semua kalangan. Anak-anak bisa interaktif, orang tua juga bisa belajar, mungkin senior-senior ingin bernostalgia. Jadi ini sebetulnya ruang pertemuan lintas generasi yang juga merupakan ruang belajar,” katanya.

Dalam sambutannya, Tatacipta menyebut museum ini lahir dari mimpi beberapa orang yang kemudian diusahakan bersama-sama. Ia menyebut para penggagasnya sebagai “hobiis”—orang-orang yang bekerja bukan karena honor, melainkan karena dorongan untuk meninggalkan warisan.

“Ini cuma hobiis semua. Ada beberapa orang hobiis. Tidak ada honor, tidak ada apa-apa, tetapi kita ingin punya museum. Ingin menaruh warisan masa lalu dan meninggalkan jejak untuk masa depan bersama-sama. Ini benar-benar kekuatan mimpi,” ujarnya.

Museum ITB tidak lahir dari logika proyek semata. Ia berangkat dari kegelisahan bahwa institusi besar sering kali memiliki arsip besar, tetapi tidak selalu memiliki ruang publik yang mampu menjahit arsip itu menjadi cerita utuh. Tatacipta menyebut banyak pihak membantu, baik dalam bentuk donasi maupun informasi. Salah satu agenda yang disebutnya ialah pengarsipan dan digitalisasi dokumen-dokumen ITB yang tersimpan di Belanda.

“Kita ingin mengarsipkan, mendigitalkan arsip-arsip yang ada di Belanda,” ujarnya. 

Ia mencontohkan, ITB telah memperoleh salinan disertasi awal dari masa lama institusi itu, juga jejak-jejak akademik yang menunjukkan betapa panjang perjalanan pendidikan tinggi teknik dan sains di Bandung. 

Gagasan Belajar di Luar Kelas dan Museum yang Tidak Pasif
Prof. Dermawan Wibisono menjadi suara yang paling banyak menjelaskan filosofi, arah, dan tantangan Museum ITB. Ia melihat peresmian ini sebagai “starting point” bagi generasi muda.

“Perjalanan sejarahnya bisa dimulai dari peresmian museum ini menjadi starting point bagi generasi muda untuk nantinya menjadi insan-insan yang lebih kompetitif, tangguh, dengan melihat contoh-contoh dari pendahulu mereka, sehingga mereka bisa menciptakan masa depan yang lebih bagus,” kata Dermawan.

Bagi Dermawan, nilai museum tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Museum harus menjadi alat belajar yang lebih konkret dibanding ruang kelas konvensional. Ia membandingkannya dengan pengalaman belajar di kelas yang kerap pasif.

“Selama ini kita belajar hanya dalam kelas saja. Dengan adanya museum ini, siswa-siswa dari SD, SMP, SMA bisa belajar dengan melihat praktisnya, contoh praktisnya,” ujarnya.

Ia memberi contoh sederhana: konsep gaya dalam ilmu fisika atau teknik. Di kelas, gaya bisa terasa abstrak. Namun, di museum, konsep itu dapat dihubungkan dengan jembatan, beban, struktur, atau simulasi visual.

“Katakanlah orang belajar gaya. Gaya itu apa? Gaya yang terjadi dalam jembatan itu apa yang harus dihitung? Apa yang terjadi jika bebannya terlalu berat? Mereka bisa melihat film-filmnya sehingga mereka merasa mendapatkan contoh nyata,” kata Dermawan.

Di titik ini, Museum ITB mengambil posisi sebagai jembatan antara teori dan pengalaman. Ia tidak menggantikan kelas, tetapi memperluas cara belajar. Ia menumbuhkan imajinasi teknis, bukan hanya ingatan historis.

Dermawan kemudian membawa gagasan itu ke wilayah yang lebih luas: rasa percaya diri bangsa. 

“Nilai pertama adalah bahwa kita bukan bangsa yang lebih rendah dari bangsa lain. Kita memiliki competitiveness dari segi kemampuan. Karena itu kita ingin membuat generasi berikutnya memiliki daya juang yang tinggi, tidak minder, memiliki kemampuan kompetisi yang bagus, dan juga fairness,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi salah satu inti narasi Museum ITB. Museum tidak hanya menyampaikan apa yang pernah dicapai ITB, tetapi juga membisikkan kepada generasi muda bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bukan wilayah yang jauh. Ia bisa dipelajari, disentuh, dipahami, dan dilanjutkan. 

Gotong Royong Alumni dan Para Donatur
Museum ITB juga menjadi cerita tentang gotong royong. Dalam sambutannya, Tatacipta berulang kali menyebut dukungan para donatur, alumni, dan keluarga besar ITB. Ia secara khusus menyapa tokoh-tokoh yang hadir, termasuk Sinta Nuriyah Wahid, Fadli Zon, Dato’ Low Tuck Kwong, Purnomo Yusgiantoro, keluarga Medco, keluarga Paragon, Yani Panigoro, dan Nyoman Nuarta.

“Terima kasih sekali kepada semua pihak yang telah membantu memberikan kepercayaan, donasi, kontribusi kepada perwujudan museum ini,” ujar Tatacipta.

Secara resmi, ITB sebelumnya juga mencatat adanya kerja sama dengan Purnomo Yusgiantoro Center dan Dato’ Dr. Low Tuck Kwong terkait donasi renovasi Museum ITB. Kerja sama itu ditandatangani pada 14 November 2025, dan disaksikan antara lain oleh Prof. Purnomo Yusgiantoro serta perwakilan Dato’ Low Tuck Kwong. Dermawan menyebut dukungan alumni sebagai salah satu energi utama museum. 

“Alumni ITB itu pada dasarnya generous. Kalau kita memberikan suatu ide, mereka akan dengan senang hati membantu,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut, pada tahap awal pembangunan museum, para alumni memberikan dukungan tanpa banyak syarat. 

“Kita tidak menjanjikan apa-apa, mereka langsung memberikan Rp 12 miliar sampai Rp 14 miliar,” katanya.(chm)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:28
05:01
01:45
01:26
02:49
12:28

Viral