- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
KDM Kesal Lihat Pedagang Jualan hingga Pasang Tenda di Trotoar, Langsung Berdebat hingga Sentil Camat
Bandung, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) kesal melihat trotoar di sekitar kawasan Gedung Sate. Ia terkejut ada banyak tenda, lapak pedagang memenuhi di bahu jalan.
KDM juga melihat ada banyak kendaraan terparkir di trotoar. Hal ini membuat dirinya sempat terlibat cekcok dan mengadu argumen dengan sejumlah pedagang yang berjualan di kawasan tersebut.
Perdebatan itu terjadi setelah pedagang diminta untuk membongkar tenda yang dipasang oleh mereka di atas trotoar. Hal ini diunggah oleh KDM melalui kanal YouTube pribadinya, Senin (3/8/2026).
Menurut KDM, keberadaan tenda tidak seharusnya di atas trotoar. Meski menjadi tempat tinggal sementara, hal itu mengganggu fungsi fasilitas umum untuk pejalan kaki.
"Ini saya bertanya, ini tempat apa? Tempat jalan kan, ini untuk pedagang apa untuk mobil lewat? Lewat. Salah enggak? Ya sudah jalan," ujar KDM dikutip tvOnenews.com, Selasa (4/8/2026).
KDM Kecewa Pedagang Tidak Kooperatif
- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Dalam perdebatan itu, ketegangan mulai meningkat saat KDM meminta agar pedagang membongkar tenda dan barang jualannya. Ia merasa kecewa karena tidak ada sikap kooperatif dari pedagang.
"Saya enggak melayani bapak, bapak terlalu angkuh," katanya.
Salah satu pedagang langsung menjelaskan alasan dirinya berjualan di lokasi itu. Ia mengatakan hal itu terjadi sejak masa pandemi Covid-19.
Usaha tersebut berjalan sebagai upaya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Penjelasan itu mendorong Dedi Mulyadi langsung memberikan penawaran berupa uang kompensasi.
Mantan Bupati Purwakarta itu setidaknya mengguyurkan uang sebesar Rp2 juta. Dana tersebut sebagai pengganti tenda yang berdiri di atas trotoar bisa dibongkar agar tidak mengganggu pengguna jalan.
Pedagang itu justru langsung menolak tawaran uang kompensasi dari Dedi Mulyadi. Ia merasa keberatan dan meminta usahanya tetap beroperasi di kawasan tersebut.
Dalam kesempatan itu, KDM juga menyambangi pedagang kopi. Ia meminta agar tidak berjualan di area trotoar di sekitar kawasan tersebut.
KDM juga memberikan solusi kepada pedagang kopi itu. Ia menawarkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan agar penghasilan tetap berjalan lancar.
"Ibu menjadi petugas kebersihan di sini mau enggak? Mulai besok kerja di sini karena bulan depan mulai gajian," tanya KDM.
Pedagang kopi tersebut justru menyatakan dirinya bersedia. Hal ini membuat mantan anggota DPR RI itu juga memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp1 juta untuk sejumlah pedagang dengan syarat harus membongkar lapaknya.
Di momen itu, KDM juga memperhatikan pendidikan dari salah satu anak pedagang. Ia mendapat penjelasan bahwa ada anak berhenti sekolah sehingga mendorong dirinya ikut membantu bagian hal ini.
"Kamu balik lagi ke Garut ya, kamu sekolah dan biayanya kita tanggung," ucap dia.
Dedi Mulyadi Sentil Camat
Selain itu, KDM juga menyentil camat setempat. Hal ini tak lepas saat dirinya menemukan sebuah mobil rusak di tengah kegiatan peninjauan tersebut.
Ia terkejut mobil rusak tersebut terparkir di tepi jalan selama kurang lebih satu bulan. Ia merasa heran kendaraan itu sama sekali tidak ditindak oleh aparat setempat.
Menurut Gubernur Jabar itu, camat dan lurah setempat sudah sangat lalai. Ia tidak habis pikir permasalahan hal ini harus ditangani oleh dirinya.
"Ini bagaimana sih? Masa iya gubernur lagi yang menangani? Siapa? Camat itu harus keliling mengecek setiap hari. Malu, seharusnya sampai gubernur ngurusin kayak beginian," kata KDM.
Amarah KDM langsung memuncak saat menilai permasalahan beberapa pedagang melanggar aturan hingga kendaraan terbengkalai di trotoar bisa menjadi masalah besar. Ia menegur camat setempat tidak berani mengeksekusi persoalan tersebut.
"Kalau ibu enggak berani eksekusi, ya jangan menjadi camat. Setiap orang kan ada fungsinya. Camat itu berfungsi, kelurahan berfungsi, kalau camat dan kelurahan berfungsi, gubernurr pasti enggak usah mengurus yang beginian. Ini bukan tugas gubernur," jelasnya.
Pria berusia 55 tahun mendesak pemerintah daerah harus lebih aktif. Setidaknya jajaran Pemda turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan secara rutin.
"Pedagang yang melanggar tidak apa-apa ditegur dari awal. Jangan sampai begini karena jadinya malu, Bu. Ini Kota Bandung!," perintah Dedi Mulyadi.
Ia meyakini hasil dari penataan kawasan sekitar Gedung Sate. Hal ini bisa menjadi awal peningkatan kedisiplinan aparat memperkokoh ketertiban di area publik.
(hap)