- Bapenda Jabar
Dedi Mulyadi Beri Penjelasan soal Pernyataan Orang Kaya Tidak Boleh Tinggal di Kompleks Orang Kaya, Singgung Disparitas Ekonomi
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan penjelasannya soal pernyataan orang kaya tidak boleh tinggal di kompleks orang kaya.
Saat menyampaikan pidato inspiratif di hadapan jajaran Kadin Jawa Barat beberapa waktu lalu, pria yang kerap disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini menyoroti masalah sentralisasi uang di ibu kota.
Menurut dia, masalah tersebut berakibat pada disparitas ekonomi antara pusat dan daerah.
Dia menggagas konsep tata ruang yang radikal: orang kaya tidak lagi berdiam di kawasan elite yang eksklusif, melainkan harus tinggal berbaur di lingkungan pedesaan atau bersama masyarakat miskin.
“Orang kaya tidak boleh tinggal di kompleks orang kaya, itu tidak ada maknanya. Mereka harus tinggal di lingkungan masyarakat pedesaan. Di sana mereka akan menjadi kekuatan bagi lingkungannya. Membantu yang sakit, membangun jalan, masjid, gereja hingga vihara,” kata Dedi Mulyadi dikutip Senin (28/9/2026).
Menurut KDM, dengan begitu, ekonomi desa akan bergerak maju.
“Ekonomi desa akan bergerak tanpa perlu lagi pusing soal subsidi,” terang KDM saat memberikan sudut pandang taktisnya.
Dia pun mendorong pemimpin daerah untuk memperbanyak perputaran uang di daerah alih-alih menghabiskannya di ibu kota provinsi.
Tak hanya itu saja, Dedi Mulyadi turut bicara soal APBD. Dia menganalogikan peran pemerintah provinsi dalam mengelola APBD layaknya seorang ibu yang memutar keuangan keluarga yang terbatas.
Adapun langkah konkret yang KDM lakukan adalah menghapus seluruh kegiatan seremonial pemerintahan dan penggunaan gedung sewaan.
Dia akan mengalihkan anggarannya untuk investasi infrastruktur daerah. Bahkan, dia mendorong agar ornamen infrastruktur bangunan pemerintah menggunakan bambu.
“Bambu itu ramah lingkungan, ada di kampung dan bisa menggerakkan ekonomi. Dari tukang potong bambu, tukang angkut sampai tukang bilik yang selama ini kurang dihargai, kini terserap tenaganya. Saya mengubah harga sebatang bambu dari Rp3.000 menjadi Rp20.000,” katanya. (nsi)