- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini
tvOnenews.com - Jagat maya kembali diramaikan oleh beredarnya rekaman video bermuatan asusila yang menyeret nama sebuah institusi pendidikan kesehatan di Bandung, Jawa Barat.
Video berdurasi sekitar 13 menit tersebut memperlihatkan seorang perempuan dan seorang pria dalam adegan dewasa. Perhatian publik muncul setelah perempuan dalam rekaman itu diduga mengenakan pakaian dengan atribut yang dikaitkan dengan Kementerian Kesehatan.
Beredarnya video tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa perempuan yang ada di dalam rekaman merupakan mahasiswi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Bandung. Informasi itu menyebar di media sosial dan memicu berbagai spekulasi mengenai identitas sosok yang terlihat dalam video.
Menanggapi kabar yang beredar, pihak Poltekkes Kemenkes Bandung akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui akun Instagram resminya, @polkesbandung.
Kampus tersebut membantah bahwa perempuan dalam video merupakan mahasiswinya. Hasil penelusuran institusi juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pakaian yang terlihat dalam rekaman dan atribut resmi mahasiswa Poltekkes Bandung.
Video Asusila Berdurasi 13 Menit Viral di Media Sosial
Video yang menjadi perbincangan tersebut berdurasi sekitar 13 menit dan dilaporkan diunggah pada Minggu (4/10/2026). Rekaman itu disebut sempat beredar melalui sebuah situs dewasa yang hanya dapat diakses menggunakan jaringan privat virtual atau VPN.
Dalam video tersebut, terlihat dua orang yang diduga sedang melakukan hubungan intim. Perhatian warganet tertuju pada pakaian berwarna putih yang dikenakan sosok perempuan.
Pada bagian dada sebelah kiri, terlihat atribut dengan tulisan 'KEMENKES' yang kemudian memunculkan dugaan keterkaitan dengan institusi pendidikan kesehatan tersebut.
Namun, kemunculan atribut yang menyerupai identitas lembaga tidak serta-merta membuktikan bahwa orang yang mengenakannya merupakan mahasiswa institusi bersangkutan.
Identitas individu dalam video juga tidak seharusnya disimpulkan hanya berdasarkan penampilan atau informasi yang beredar di media sosial. Tanpa verifikasi yang memadai, spekulasi dapat berkembang menjadi tuduhan yang merugikan pihak tertentu.
Karena itu, klarifikasi dari institusi terkait menjadi penting untuk meluruskan informasi sekaligus mencegah penyebaran kabar yang belum terkonfirmasi.
Poltekkes Bandung Tegaskan Pemeran Video Bukan Mahasiswinya
Melalui pernyataan tertulis yang diunggah di akun Instagram resmi @polkesbandung, Poltekkes Kemenkes Bandung menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan penelusuran dan verifikasi terhadap rekaman yang beredar.
- instagram poltekkes kemenkes
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi kampus untuk membantah dugaan bahwa perempuan dalam video merupakan mahasiswinya. Pihak institusi juga menjelaskan bahwa atribut pakaian yang terlihat dalam rekaman tidak sesuai dengan identitas resmi mahasiswa Poltekkes Bandung.
“Berdasarkan hasil penelusuran dan verifikasi mendalam yang telah dilakukan oleh pihak Poltekkes Kemenkes Bandung, individu yang terdapat dalam video tersebut bukan merupakan mahasiswi Poltekkes Kemenkes Bandung,” demikian bunyi klarifikasi tersebut.
Kampus kemudian menjelaskan sejumlah ketidaksesuaian yang ditemukan pada pakaian dalam video, termasuk desain seragam dan identitas visual yang dikenakan.
“Desain seragam, bentuk dan tata letak logo, serta identitas visual lainnya yang terlihat dalam video tersebut sama sekali tidak merepresentasikan seragam dan atribut resmi mahasiswa/i Poltekkes Kemenkes Bandung,” tulis pihak kampus.
Klarifikasi ini menegaskan bahwa dugaan yang menghubungkan pemeran video dengan mahasiswa Poltekkes Bandung tidak sesuai dengan hasil verifikasi institusi.
Pihak kampus juga menyayangkan beredarnya rekaman yang dinilai dapat memunculkan informasi keliru dan merugikan nama baik lembaga pendidikan tersebut.
“Poltekkes Kemenkes Bandung sangat menyayangkan beredarnya video yang tidak benar dan berpotensi merugikan nama baik Poltekkes Kemenkes Bandung,” sambung pernyataan itu.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak langsung mempercayai klaim mengenai identitas pemeran video tanpa memeriksa sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat Diminta Tidak Menyebarkan Video yang Belum Terverifikasi
Selain membantah keterkaitan pemeran video dengan mahasiswinya, Poltekkes Kemenkes Bandung mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Kampus meminta publik tidak mengunduh, membagikan ulang, atau menyebarkan rekaman maupun informasi yang belum terverifikasi. Langkah tersebut penting untuk mencegah meluasnya informasi keliru dan mengurangi risiko kerugian bagi pihak-pihak yang namanya terseret dalam pemberitaan.
Dalam klarifikasinya, pihak kampus juga mengingatkan bahwa penyebaran konten dan informasi yang tidak akurat dapat menimbulkan dampak negatif serta berpotensi melanggar ketentuan hukum yang berlaku.
“Penyebaran konten maupun informasi yang tidak akurat dapat menimbulkan dampak negatif dan berpotensi melanggar ketentuan peraturan undang-undang yang berlaku,” tulis pihak Poltekkes Kemenkes Bandung.
Institusi tersebut turut menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas lembaga dan mendukung penyebaran informasi yang benar.
“Poltekkes Kemenkes Bandung berkomitmen untuk menjaga integritas institusi serta mendukung upaya penyebaran informasi yang benar, akurat, dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa konten viral tidak selalu menggambarkan fakta secara utuh. Atribut pakaian, potongan video, maupun keterangan yang beredar di media sosial perlu diperiksa sebelum dijadikan dasar untuk menyimpulkan identitas seseorang.
Masyarakat juga perlu mempertimbangkan dampak penyebaran ulang video bermuatan seksual terhadap privasi dan martabat individu yang muncul di dalamnya. Membagikan rekaman tersebut justru dapat memperluas jangkauan konten dan memperbesar potensi kerugian.
Hingga klarifikasi yang disampaikan kampus, Poltekkes Kemenkes Bandung menegaskan bahwa individu dalam video bukan mahasiswinya berdasarkan hasil penelusuran dan ketidaksesuaian atribut resmi. Publik diharapkan menjadikan keterangan institusi sebagai rujukan dan tidak ikut menyebarkan rekaman yang belum terverifikasi. (udn)