news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Politeknik Negeri Malang mendorong petani dan UMKM mengoptimalkan teknologi, energi terbarukan, pengelolaan usaha, hingga pemasaran digital..
Sumber :
  • Antara

Melon Wates Naik Kelas: Teknologi dan Digitalisasi untuk Menggerakkan Ekonomi Desa

Memasuki tahun kedua program pengabdian kepada masyarakat pada 2026, Politeknik Negeri Malang mendorong petani dan UMKM mengoptimalkan teknologi, energi terbarukan, pengelolaan usaha, hingga pemasaran digital.
Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:35 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Melon di Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, kini tidak hanya mengandalkan hasil panen. Memasuki tahun kedua program pengabdian kepada masyarakat pada 2026, Politeknik Negeri Malang mendorong petani dan UMKM mengoptimalkan teknologi, energi terbarukan, pengelolaan usaha, hingga pemasaran digital.

Ketua tim, Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, mengatakan penguatan tahun kedua diarahkan agar teknologi yang telah diperkenalkan sebelumnya benar-benar memberikan manfaat bagi keberlanjutan usaha mitra. 

“Kami tidak ingin teknologi berhenti pada pemasangan alat. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dan UMKM mampu menggunakan, merawat, dan memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi serta nilai ekonomi produk,” ujar Nilawati.

Program ini diketuai Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, bersama Prof. Dr. R. Moechammad Sarosa, Dipl. Ing., M.T., R N Akhsanu Takwim, S.T., M.T., dan Anna Widayani, S.Pd., M.AB. Kegiatan didukung melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan, Ruang Lingkup Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.

Wates memiliki sekitar 273 greenhouse di lahan seluas 15 hektare yang dikelola 125 petani milenial. Sebagian besar tergabung dalam Koperasi Pemasaran Republik Melon dengan produksi rata-rata 126 ton per bulan. Hasil panen terbagi dalam tiga kelas. Melon Grade A bernilai sekitar Rp30.000 per kilogram dan relatif mudah terserap pasar. Grade B sekitar Rp20.000 per kilogram, sedangkan Grade C hanya sekitar Rp6.000 per kilogram dan lebih sulit dipasarkan sebagai buah segar.

Kondisi tersebut membuat peningkatan produksi saja belum cukup. Kualitas harus dijaga, hasil panen perlu dikelola dengan baik, sementara buah yang kurang diminati pasar membutuhkan alternatif pemanfaatan.

Pada tahun kedua, sistem Internet of Things (IoT) yang telah diterapkan sebelumnya terus dimanfaatkan untuk membantu petani memantau kondisi greenhouse, seperti suhu dan kelembapan, serta mengatur penyiraman melalui dashboard digital.

Teknologi tersebut kini didukung energi surya. Dua unit panel surya berkapasitas 300 Wp dan 600 Wp dipasang untuk mendukung kebutuhan listrik sistem IoT di greenhouse Koperasi Republik Melon. Petani juga mendapat pendampingan pengoperasian dan pemeliharaan agar teknologi dapat digunakan secara berkelanjutan.

Di sisi hilir, KWT Wani Maju yang beranggotakan 20 perempuan memanfaatkan melon Grade C sebagai bahan baku produk olahan, salah satunya keripik melon. Buah yang sulit bersaing di pasar segar memperoleh nilai tambah setelah diolah.

Untuk mendukung kegiatan produksi, dipasang satu unit panel surya berkapasitas 800 Wp sebagai sumber listrik alternatif mesin pengolahan. Pendampingan juga diberikan dalam pengelolaan produksi dan administrasi usaha, termasuk pencatatan bahan dan hasil produksi.

Penguatan manajemen dilakukan pula di Koperasi Republik Melon melalui penataan pembagian tugas pengurus dan penerapan sistem informasi usaha. Langkah ini diharapkan membuat pengelolaan produksi dan kegiatan koperasi lebih tertib serta berbasis data.

Sementara itu, pemasaran mulai diperluas ke ruang digital. Koperasi mengembangkan website yang memuat informasi panen, produk, profil, paket wisata, dan kontak pemesanan. KWT Wani Maju mulai mengembangkan TikTok sebagai sarana memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.

Pendampingan tidak berhenti pada pembuatan akun. Mitra belajar membuat video, menyusun caption, dan mengelola konten secara konsisten. Dengan cara ini, produk lokal tidak hanya ditawarkan sebagai barang, tetapi juga diperkenalkan melalui cerita di baliknya.

Keripik melon, misalnya, membawa cerita tentang petani Wates, pemanfaatan Grade C, serta pemberdayaan kelompok perempuan. Cerita tersebut menjadi bagian dari identitas produk sekaligus membuka peluang pasar baru.

Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan agribisnis tidak berhenti di greenhouse. Produksi, pengolahan, manajemen, dan pemasaran mulai dibangun sebagai satu rantai nilai. Grade A diarahkan ke pasar premium, Grade B diperkuat pemasarannya, sedangkan Grade C dikembangkan menjadi bahan baku produk olahan.

Program ini masih berlanjut hingga tahun ketiga dengan agenda penguatan pengendalian mutu, diversifikasi produk Grade C, peningkatan kapasitas SDM, pengelolaan risiko, perluasan pemasaran, dan pengembangan eduwisata melon.

“Harapannya, rantai nilai melon di Wates semakin kuat. Petani memperoleh manfaat dari peningkatan kualitas, UMKM mendapatkan nilai tambah dari hasil panen, dan pasar yang dijangkau semakin luas. Dengan begitu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu pelaku usaha, tetapi oleh ekosistem ekonomi desa,” ujar Nilawati.

Pada akhirnya, yang ingin dinaikkan kelas bukan hanya melonnya. Lebih jauh, program ini mendorong petani, koperasi, dan UMKM agar semakin mampu memanfaatkan teknologi, mengelola usaha, dan membaca peluang pasar.

Dari greenhouse berbasis IoT hingga produk yang dipasarkan melalui media sosial, melon Wates perlahan tumbuh menjadi bagian dari ekosistem usaha yang menghubungkan pertanian, teknologi, UMKM, dan pasar.

Melon pun bukan sekadar hasil panen, tetapi mulai menjadi penggerak nilai ekonomi bagi masyarakat desa.(chm)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:44
09:08
08:51
10:28
08:01
08:09

Viral