news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Tiga Bulan Belum Kunjung Surut, Banjir di Lamongan Dapat Perhatian Kusus BNPB.
Sumber :
  • Moh Mahrus

Tiga Bulan Belum Kunjung Surut, Banjir di Lamongan Dapat Perhatian Kusus BNPB

Banjir akibat Luapan Sungai Bengawan Jero yang merendam sejumlah kecamatan di Lamongan tiga bulan terakhir belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Sabtu, 21 Februari 2026 - 13:35 WIB
Reporter:
Editor :

Lamongan, tvOnenews.com - Banjir akibat Luapan Sungai Bengawan Jero yang merendam sejumlah kecamatan di Kabupaten Lamongan, sudah hampir tiga bulan terakhir, belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Meski berbagai upaya darurat dilakukan pemerintah, genangan air masih bertahan di permukiman dan lahan pertanian serta sawah tambak warga.

Hingga saat ini lima kecamatan di wilayah Bengawan Jero Lamongan masih tergenang banjir, yaitu Kecamatan Kalitengah, Deket, Turi, Karangbinangun, serta kecamatan Glagah.

Banjir sempat surut pada awal Februari yang hanya beberapa sentimeter. Namun kini kembali naik lantaran intensitas curah hujan tinggi masih terjadi di wilayah Kabupaten Lamongan. Ketinggian banjir saat ini masih bervariatif mulai dari 40 hingga 60 sentimeter.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan perhatian khusus terhadap bencana ini. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan turun pada Jumat (20/02) meninjau lokasi terdampak bersama Bupati Lamongan.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau sejumlah titik banjir, termasuk Dusun Mluke, serta menyerahkan bantuan sembako secara simbolis kepada warga.

“Kami ingin persoalan banjir di Lamongan bisa terselesaikan. Yang paling penting adalah menambah pompa dan mengoptimalkan pompanisasi agar air segera teratasi,” ujar Mayjen TNI Budi Irawan.

Saat ini, sebanyak 15 unit pompa telah beroperasi di lapangan, ditambah dua unit lainnya. Setiap pompa bekerja rata-rata 14 jam per hari dengan kapasitas sekitar 549 liter per detik. BNPB juga akan menambah satu unit pompa mobile berkapasitas 500 liter per detik, lima unit perahu, serta tenda darurat. Namun hingga kini, ketinggian air masih terpaut sekitar 66 sentimeter sehingga belum dapat mengalir keluar secara optimal.

Sementara Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengakui bahwa dalam kondisi saat ini, pompanisasi menjadi langkah paling memungkinkan.

“Langkah yang bisa kita lakukan sekarang adalah pompanisasi, karena cara lain dampaknya kurang efektif untuk mempercepat penurunan debit air,” jelasnya.

Banjir di kawasan Bengawan Jero sendiri merupakan fenomena tahunan. Seluruh aliran air dari 15 kecamatan bermuara ke satu titik pembuangan, sementara pintu air Kuro belum dapat dibuka akibat tingginya debit air Sungai Bengawan Solo.

Kondisi ini membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Aktivitas terganggu, rumah rusak, dan sebagian petani terancam gagal panen.

“Kami sudah lelah menunggu. Air tidak juga surut, sementara aktivitas sehari-hari jadi serba sulit,” keluh Suyono (45), warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket.

Kondisi semakin berat dengan pendangkalan Waduk Gondang yang menurunkan kapasitas tampung hingga sekitar 65 persen. Meski pemerintah menyebut normalisasi sungai dan pendalaman waduk terus dilakukan, dampaknya belum dirasakan warga.

“Setiap tahun banjir, tapi sekarang paling lama. Kami berharap ada solusi permanen, bukan hanya pompa dan bantuan sementara,” kata Siti Aminah (38), warga terdampak lainnya.

Warga kini hanya bisa berharap air segera surut dan pemerintah segera menghadirkan langkah nyata agar banjir tahunan tidak lagi berubah menjadi bencana berkepanjangan. (mmr/far)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

21:54
05:06
03:36
29:02
04:42
05:28

Viral