- tim tvOne
Tidak Diizinkan Kerja di Luar Kota, Gen Z Ini Sukses Bisnis Budidaya Modern Ikan di Halaman Rumah
Banyuwangi, tvOnenews.com - Bermodalkan halaman yang ada di samping rumahnya di tengah pemukiman padat penduduk di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, Fahriyyah ternyata mampu menghasilkan cuan hingga Rp50 juta setiap tahunnya.
Gadis lulusan Universitas Airlangga Banyuwangi jurusan Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) ini boleh dibilang mulai berhasil dalam usahanya budidaya ikan nila kekar. Dalam kurun waktu tiga tahun, Ria, panggilan akrabnya, mampu membuka peluang kerja untuk dirinya sendiri dan tetangganya dari bisnis budidaya ikan berkelanjutan dan modern.
"Saya ditawarin kerja di luar kota. Tapi karena saya anak bungsu dari delapan bersaudara, saya dilarang bekerja jauh dari keluarga," ungkap Ria kepada tvOnenews.com, Selasa (21/4/2026).
Karena tidak ingin menganggu dan tidak ingin ilmu yang didapatkan selama berkuliah menjadi sia-sia, gadis berusia 24 tahun ini akhirnya memanfaatkan lahan di samping rumahnya dengan membuat kolam ikan nila.
Dari yang awalnya dua kolam bioflok, kini sudah ada enam kolam yang terpasang di halamannya. Tiap kolam berisi ratusan ekor ikan nila dengan berbagai ukuran. Ada yang masih anakan, hingga yang siap panen.
"Setiap dua hingga tiga bulan, ikan nila ini siap panen. Sekali panen bisa sampai 200 kilogram," ungkap Ria sambil tersenyum.
Tidak hanya untuk dikirim ke beberapa restoran dan rumah makan yang menyediakan menu ikan nila. Ternyata dari tempat usaha yang diberi nama I-Tawar ini, Ria juga menampung beberapa peternak ikan nila di Banyuwangi yang kesulitan untuk menjual hasil panennya.
Di tengah perjalanan, ternyata ide untuk meningkatkan nilai ekonominya pun muncul.
"Sejak dibuat ikan frozen, ternyata menambah nilai ekonominya," tambah Ria.
Dengan mengandalkan resep keluarga, ikan nila mentah diolah menjadi ikan nila bumbu kuning, ikan nila bakar, hingga nugget nila. Semua ikan frozen yang dijual secara offline dan online itu ternyata banyak peminatnya.
"Kami sering kirim ke Jakarta, Surabaya, Malang dan kota-kota lain. Bahkan di Lumajang dan Bali sudah ada resellernya," ujar Ria.
Apa yang dilakukan Ria ini memang sejalan dengan semangat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang secara intensif mendorong budidaya ikan berkelanjutan dan modern untuk meningkatkan produksi, menjaga ekosistem, dan memperkuat ekonomi dengan prinsip zero waste.
“iTawar ini adalah inovasi saya pribadi yang merupakan usaha budidaya ikan air tawar yang menggabungkan teknologi modern dan prinsip keberlanjutan. Saya sengaja memilih ikan nila karena nilai keekonomiannya lebih tinggi dan perawatannya pun tidak menimbulkan bau seperti ikan lele, karena kolam-kolam kami ini ada di sekitar pemukiman warga,” tegas Ria.
Ia bersyukur Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memberikan dukungan baik dari bisnis rumahannya tersebut. Selain mendapatkan pendampingan dari Dinas Perikanan Banyuwangi, ia juga tengah mengajukan kerjasama untuk dengan Pemkab Banyuwangi untuk menambah kolam pemijahan sebagai solusi atas kendala mendapatkan benih berkualitas.
“Kendala kami saat ini mendapatkan benih dengan kualitas baik di Banyuwangi. Selama ini saya dapat benih dari luar kota dan pernah satu hari itu mati semua benihnya karena memang jarak yang sangat jauh. Ke depan, saya sedang mengajukan bantuan dari Pemkab Banyuwangi untuk menambah kolam pemijahan mandiri untuk memproduksi benih dengan genetik yang baik,” lanjutnya. (hoa/far)