news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Suasana kadang ayam petelur milik Sri Wahyuni yang berada di Desa Candimulyo, Kecamatan/Kabupaten Jombang..
Sumber :
  • rohmadi

Rupiah Melemah Picu Kenaikan Harga Pakan, Peternak Ayam Petelur di Jombang Kian Terpuruk

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah termasuk peternak ayam petelur skala rumahan.
Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:04 WIB
Reporter:
Editor :

Jombang, tvOnenews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Di Kabupaten Jombang, para peternak ayam petelur skala rumahan kini menghadapi tekanan berat akibat naiknya biaya operasional yang tidak sebanding dengan harga jual telur di pasaran.

Kondisi tersebut dialami Sri Wahyuni, peternak ayam petelur asal Desa Candimulyo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Peternak pemula dengan populasi sekitar 200 ekor ayam itu mengaku mengalami kerugian cukup besar dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Sri, harga telur ayam saat ini terus mengalami penurunan hingga menyentuh angka Rp22 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, harga telur masih berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram.

Di sisi lain, biaya produksi justru mengalami kenaikan signifikan, terutama pada harga pakan ternak yang menjadi kebutuhan utama peternak ayam petelur.

“Sekarang kami sangat mengalami kerugian. Harga jual telur turun, sedangkan harga pakan terus naik. Dulu harga telur masih di atas Rp25 ribu sampai Rp28 ribu per kilogram, sekarang tinggal sekitar Rp22.500,” ujar Sri Wahyuni, Sabtu (23/5).

Ia menjelaskan, harga pakan ayam kemasan 50 kilogram yang sebelumnya berkisar Rp345 ribu hingga Rp350 ribu per sak, kini naik menjadi Rp365 ribu. Padahal, satu sak pakan tersebut hanya cukup untuk kebutuhan dua hari.

Kenaikan harga pakan membuat biaya operasional membengkak. Sementara produksi telur tidak bisa dipertahankan jika pemberian pakan dikurangi.

“Kalau pakannya dikurangi, produksi telur otomatis turun. Ayam tidak bisa bertelur maksimal,” tambahnya.

Saat ini, dari sekitar 200 ekor ayam petelur miliknya, Sri mampu menghasilkan kurang lebih 15 kilogram telur per hari. Untuk menyiasati lonjakan biaya pakan, ia berencana memberikan nutrisi tambahan alternatif seperti dedaunan agar produktivitas ayam tetap terjaga.

Kondisi yang dialami Sri Wahyuni juga dirasakan banyak peternak kecil lainnya di Jombang. Mereka berharap pemerintah dapat hadir menjaga stabilitas harga, baik harga pakan maupun harga jual telur di tingkat peternak.

Para peternak menilai kestabilan harga sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil yang menjadi bagian dari penopang ketahanan pangan di tingkat desa.

"Kenapa kami bertahan? Kami peternak tetap berkomitmen bertahan demi menjaga roda perekonomian keluarga dan mempertahankan produksi pangan masyarakat," ungkapnya. (roi/far)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:17
12:40
03:47
02:02
05:02
04:25

Viral