- tvOne - zainal azkhari
Siswa SMAN 11 Surabaya Tewas Diduga Dikeroyok 4 Teman Gara-gara Sandal Crocs Rp1,5 Juta
Surabaya, tvOnenews.com - Kabar duka menyelimuti lingkungan pendidikan dan masyarakat Surabaya. Seorang siswa SMAN 11 Surabaya bernama Thomas Julianus Kristianto meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh empat orang temannya.
Perselisihan yang berujung maut ini bermula dari hal sepele yakni hilangnya sepasang sandal bermerek yang diklaim bernilai jutaan rupiah. Keempat pelaku kini telah diamankan Polrestabes Surabaya guna diselidiki lebih lanjut.
Suasana duka terlihat jelas di kediaman korban di kawasan Manukan, Surabaya. Peristiwa ini bermula sejak Mei 2026 lalu. Saat berkunjung ke rumah seorang teman, Thomas diketahui tanpa sengaja memakai sandal Crocs milik salah satu pelaku. Masalah muncul ketika sandal tersebut kemudian hilang, sehingga pemiliknya menuntut ganti rugi.
Kakak kandung korban, Hana Novia Kristiani, menceritakan bahwa ia telah memberikan uang kepada adiknya untuk membeli sandal pengganti. Thomas pun sudah menyerahkan sepasang sandal baru kepada pihak yang menuntut, dan Hana mengira persoalan sudah selesai.
"Adik saya info ke saya bahwa si pelaku meminta ganti rugi. Saya sudah kasih uang untuk ganti rugi dan adik saya sudah mengganti dengan sandal baru. Jadi saya menganggap tidak ada utang piutang," ujar Hana.
Namun, dugaan itu keliru. Pelaku menolak sandal pengganti yang diserahkan Thomas. Masalah justru membesar karena adanya selisih nilai harga yang sangat jauh. Sandal yang hilang diklaim bernilai sekitar Rp1,5 juta, sedangkan sandal pengganti yang diberikan korban diperkirakan hanya bernilai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
Hana sangat meragukan klaim harga tersebut karena tidak pernah melihat barang asli maupun bukti pembeliannya.
"Apakah betul Rp1,5 juta? Bahkan model sandalnya pun saya tidak tahu. Bagaimana caranya saya percaya harga sandal tersebut sebesar itu jika tidak ada bukti pembeliannya?" tegasnya.
Perselisihan yang tak kunjung usai itu akhirnya berujung pada ajakan penyelesaian secara fisik. Thomas diajak bertarung satu lawan satu, namun ajakan itu ternyata merupakan jebakan. Menurut keterangan saksi, saat tiba di lokasi yang disepakati, korban justru langsung diserang beramai-ramai oleh keempat pelaku, salah satunya memiliki julukan "Klipet".
Akibat pengeroyokan tersebut, Thomas mengalami luka parah terutama di bagian kepala. Ia sempat dilarikan ke Klinik dr Danu pada dini hari, sebelum dirujuk ke RSUD dr Soetomo sekitar pukul 04.30 WIB. Setelah menjalani pemeriksaan dan operasi, kondisi korban terus memburuk akibat pendarahan pascaoperasi hingga akhirnya meninggal dunia.
Menanggapi kasus ini, Kanit Resmob Polrestabes Surabaya, AKP Aditya Herlambang, membenarkan pihaknya telah mengamankan keempat pelaku.
"Kami sudah mengamankan empat orang pelaku yang masing-masing berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU. Saat ini kami sedang mendalami peran dan motif masing-masing pelaku dalam peristiwa ini," ungkap AKP Aditya.
Keempat pelaku telah ditahan dan akan diproses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku, di antaranya terkait tuduhan penganiayaan yang menyebabkan kematian.
Thomas merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah kehilangan kedua orang tuanya, dan kini harus pergi selamanya akibat peristiwa yang seharusnya dapat diselesaikan dengan baik. Kasus ini menjadi peringatan keras akan pentingnya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan menghindari tindakan kekerasan di lingkungan mana pun. (zaz/gol)