- tim tvOne
Menteri LH Minati Inovasi Mesin Pengolahan Limbah Sisa Makanan MBG Jadi Pupuk Kompos
Surabaya, tvOnenews.com - Inovasi mesin pengelolahan limbah karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dinilai berpotensi diterapkan secara luas di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mengatasi persoalan limbah sisa makanan maupun limbah cair. Inovasi ini menarik minat Menteri Lingkungkan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat. Pihaknya akan berkolaborasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menggunakan inovasi buatan anak bangsa ini
Inovasi buatan peneliti ITS tersebut adalah Compostech, mesin pengolah limbah sisa makanan yang mampu mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos dalam waktu 20 jam. Tidak butuh waktu berhari-hari sebagaimana membuat pupuk kompos secara konvensional pada umumnya.
Menurut Angela, salah satu peneliti mesin Ecosmart Composter, operasionalnya cukup mudah, limbah sisa makanan tinggal dimasukkan ke dalam mesin, selanjutnya mesin kompos digital tersebut tinggal diatur sesuai kebutuhan dan akan menggiling sisa makanan seperti mesin cuci dengan kadar panas untuk mengeringkan.
"Tak kurang dari sehari pupuk kompos sudah jadi dan keluar dari kotak di bawah mesin. Mesin ini mampu mengolah hingga 50 kilogram sampah organik setiap hari," ujarnya.
Inovasi mesin ini menarik minat Menteri LLingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, saat berkunjung di ITS. Menurutnya, mesin ini dapat menjadi salah satu solusi konkret dalam mengurangi beban sampah organik, yang selama ini masih mendominasi tempat pembuangan akhir di berbagai daerah. Selain itu juga bisa untuk mengolah limbah sisa makanan di dapur MBG.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Jumhur Hidayat menyebutkan persoalan limbah dari dapur MBG menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan karena setiap hari menghasilkan limbah makanan dan limbah cair dalam jumlah besar.
"Mesin ini menjadi solusi yang sangat menarik untuk diterapkan di setiap dapur MBG," ungkapnya.
Bahkan Jumhur dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono terkait inovasi mekanisasi pengolahan limbah karya ITS yang dapat diterapkan di dapur-dapur MBG.
"Mesin ini cukup menarik (untuk) sisa makanan dari MBG. Saya mendorong sekali dan nanti akan saya bicarakan juga dengan pimpinan yang mengelola MBG (Kepala BGN, Sudaryono) untuk memastikan proses pengelolaan limbah di dapur-dapur MBG. Tadi dua inovasi itu sudah dipresentasikan. Kalau dikombinasikan untuk food waste (MBG) dan limbah cair berminyak atau deterjen (SPPG), saya rasa menjadi satu paket yang menarik untuk MBG," jelasnya, saat mengunjungi pameran alat pengolahan limbah di Rektorat ITS.
Jumhur menilai, teknologi tersebut tidak hanya mampu mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomis karena biaya pengadaannya dinilai cukup terjangkau.
"Apalagi harganya sangat masuk akal. Menurut saya ini sangat berpotensi untuk dikolaborasikan bersama MBG," imbuhnya.
Sementara itu, Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menyebutkan inovasi yang mendapat perhatian Menteri adalah Compostech yang mampu mempercepat proses pembuatan kompos secara signifikan.
Apabila komposter konvensional membutuhkan waktu hingga satu bulan, Compostech mampu mengolah limbah makanan menjadi kompos hanya dalam waktu delapan hingga 20 jam melalui sistem pemanasan dan pengadukan otomatis.
"Pak Menteri melihat komposter ini sangat potensial diterapkan di dapur MBG karena setiap hari pasti ada sisa makanan yang menjadi limbah. Dengan teknologi ini proses pengolahannya jauh lebih cepat dibanding komposter biasa," tuturnya. (far)