news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Tiga Kilometer Demi Air, Warga Situbondo Rela Meniti Jalan Terjal untuk Isi Galon.
Sumber :
  • hery sampurno

Tiga Kilometer Demi Air, Warga Situbondo Rela Meniti Jalan Terjal untuk Isi Galon

Bagi warga Dusun Langai, Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, air bersih kini menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:14 WIB
Reporter:
Editor :

Situbondo, tvOne.com - Bagi warga Dusun Langai, Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, air bersih kini menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.

Setiap hari, sebagian warga harus berjalan sekitar tiga kilometer pulang-pergi melewati jalan berbatu, tanjakan dan medan terjal hanya untuk mendapatkan air dari sebuah sumur tua milik warga.

Dua hingga tiga galon berukuran 15 liter dibawa sekaligus. Sebagian warga mengangkutnya dengan tangan, sementara lainnya memilih menjunjung galon di atas kepala.

Air yang mereka bawa pulang bukan sekadar untuk minum. Air tersebut digunakan untuk memasak, mencuci hingga memenuhi kebutuhan mandi keluarga.

Turun ke sini ambil air. Paling tidak satu jam perjalanan naik turun. Ya susah, karena sudah tidak ada sumber air lagi. Mulai Mei ini air kami gunakan untuk makan, minum sampai mencuci,” kata Asian, warga setempat.

Krisis air mulai dirasakan warga sejak memasuki musim kemarau. Sejumlah sumur warga mengering, sementara sebagian lainnya masih memiliki air tetapi debitnya sangat kecil dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air alternatif yang lokasinya cukup jauh dari permukiman. Bahkan, keterbatasan air mulai mengubah kebiasaan sehari-hari.

Warga yang biasanya mandi dua kali sehari kini terpaksa mengurangi menjadi sekali. Aktivitas mencuci juga harus dibatasi. Anak-anak sekolah bahkan ikut membantu mengambil air ketika pulang sekolah atau saat libur.

Sebagian warga yang memiliki kemampuan ekonomi memilih membeli air. Untuk satu drum plastik berisi sekitar 25 liter, warga harus membayar sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000.

Harga tersebut memang tidak mengalami kenaikan, tetapi bagi keluarga dengan kebutuhan air setiap hari, pengeluaran itu tetap menjadi beban tambahan.

Krisis air paling terasa bagi perempuan yang harus memastikan kebutuhan air rumah tangga tetap tersedia.

Asmina, ibu rumah tangga yang memiliki dua anak, menjadi salah satu warga yang ikut mengambil air.

Bagi warga seperti Asmina, perjalanan mencari air bukan aktivitas sesekali. Ini telah menjadi rutinitas selama musim kemarau.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

25:05
12:52
01:22
01:12
01:46
01:00

Viral