- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Warganya Viral Dipalak Rp1 Juta saat Ambil Motor Barang Bukti Kecelakaan, Kapolrestabes Surabaya Murka: Mutasikan, Demosi!
Surabaya, tvOnenews.com - Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan murka kepada oknum anggota Satlantas dari pihaknya. Hal ini tak lepas dari seorang warga asal Surabaya, Kristiani viral setelah menceritakan pengalamannya.
Luthfie mengetahui peristiwa dialami Kristiani. Warga Surabaya itu mengaku dirinya diminta transfer uang sebesar Rp1 juta saat mengambil surat pengeluaran kendaraan motor barang bukti kecelakaan.
Luthfie pun bertindak tegas dan keras kepada salah satu anggota Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Surabaya yang diduga melakukan pungutan liar (pungli) kepada warga saat pengambilan barang bukti (BB) kendaraan motor bekas kecelakaan.
Saat memimpin apel anggota pada Jumat (28/8/2026), Kapolrestabes Surabaya itu mendesak agar oknum anggota Satlantas tersebut mendapatkan sanksi tegas. Hukuman yang diberikan berupa mutasi maupun demosi (dipindahkan) apabila ditemukan adanya pelanggaran.
"Saya minta Pak Kasi Propam (Polrestabes Surabaya) segera lakukan tindakan disiplin kode etik. Kabad Sumda segera mutasikan yang bersangkutan, demosi," ujar Luthfie dilansir dari akun Instagram pribadinya, Sabtu (29/8/2026).
Ia berharap kasus serupa tidak boleh terulang lagi ke depannya. Ia menginginkan peristiwa yang indisipliner dan melanggar kode etik menjadi kejadian terakhir kalinya khususnya di wilayah Surabaya.
Kapolrestabes Surabaya Minta Temui Korban
Dalam kesempatan itu, Luthfie juga memberikan perintah kepada Kasat Lantas Polrestabes Surabaya, AKBP Galih Bayu Raditya. Ia mendesak agar warga yang viral tersebut ditemui oleh pihaknya.
Ia menunjukkan pernyataan mengejutkan. Kapolrestabes Surabaya itu siap mengganti uang yang ditransfer hingga 10 kali lipat.
"Kasat Lantas temui segera korban yang kemarin dimintain duit itu. Sampaikan nanti dari saya, bahwa saya ganti 10 kali lipat. Itu komitmen saya," ucapnya.
Lebih lanjut, ia juga menginginkan Polrestabes Surabaya semakin lebih baik. Komitmennya untuk tetap mengayomi seluruh masyarakat.
Sayangnya komitmen tersebut masih dicederai. Ada oknum anggota polisi dari wilayahnya viral di media sosial karena diduga meminta warga ynag menjadi korban untuk transfer uang Rp1 juta.
"Kita sudah berkomitmen untuk menjadi lebih baik, tapi ternyata masih ada yang mengecewakan," terangnya.
Ia menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang dialami korban. Ia sangat menyesali masih adanya dugaan tindakan indisipliner dilakukan oleh anggotanya sehingga rentan mencederai pelayanan dari pihak kepolisian.
"Jangan sampai musibah itu datangnya dari orang yang bertugas memberikan pelayanan, melindungi, mengayomi, justru menjadi orang yang menambah berat beban hidupnya," tuturnya.
Luthfie pun tidak mengenal pandang bulu. Ia akan memberikan hukuman sekeras-kerasnya karena terdapat lemahnya sistem pengawasan internal di lingkungan satuan kerja.
Ia berpendapat kepala satuan (kasat) seharusnya turut bertanggung jawab. Tugasnya memastikan seluruh anggotanya selalu menjalankan tugas sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku.
"Karena anak inilah yang mencederai rekan-rekan yang sudah berbuat baik, rekan-rekan yang sudah berjibaku memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saya minta ini para Kasat juga harus bertanggung jawab. Saya menilai tidak ada pengawasan optimal dari Kasat," jelasnya.
Dalam penutupnya, Luthfie mengimbau seluruh personel Polrestabes Surabaya. Kejadian ini menjadi peringatan keras agar tidak menyalahgunakan kewenangan saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, tindakan tegas juga sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk terus menjaga sikap profesionalitas hingga kepercayaan dari masyarakat terhadap instansi kepolisian.
Kronologi Warga yang Viral Diminta Transfer saat Ambil Surat Pengeluaran Motor Barang Bukti Kecelakaan
Sebelumnya, Kristiani membagikan pengalamannya melalui unggahan akun Threads @tasyamarcella96. Cerita tersebut dengan cepat viral hingga menuai gelombang reaksi dari publik.
Dalam unggahannya, ia mengklaim pengambilan surat pengeluaran kendaraan motor sebagai barang bukti kecelakaan harus berbayar. Ia diminta transfer sebesar Rp1 juta saat mengurus di Satlantas Colombo Surabaya pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurutnya, pengambilan surat pengeluaran tidak dipungut biaya alias gratis. Sayangnya ia harus membayar untuk mengurus kebutuhan asuransi dari Jasa Raharja.
Uang tersebut bahkan masuk ke rekening pribadi salah satu penyidik. Hal ini membuat dirinya terkejut dan kecewa telah diminta uang Rp1 juta.
"Ambil barang bukti kecelakaan gratis. Iya sih gratis, tapi buat minta surat pengeluaran kendaraan harus bayar," tulis Kristiani.
Dalam unggahannya, ia menunjukkan bukti surat pengeluaran hasil dari transfer uang. Selain itu, ia juga berbagi bukti dirinya telah mengirim Rp1 juta ke rekening penyidik.
Kristiani mengaku dirinya sempat difasilitasi untuk mediasi dan diminta mengarsipkan unggahan viralnya. Namun ia justru menolak agar kejadian dialaminya tidak kembali terjadi ke masyarakat lainnya.
Setelah itu, ia membagikan kabar terbarunya. Permasalahan tersebut telah tuntas dan motor yang menjadi barang bukti kecelakaan disimpan di Polsek Dukuh Pakis juga telah diambil olehnya.
"Mari kita jadikan ini sebuah pelajaran yang berharga. Semoga kejadian ini menjadi evaluasi dan ke depannya masyarakat bisa mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya," tukasnya.
(hap)