- tim tvone - tim tvone
Urai Antrean Truk Berhari-hari, Sistem Tiba Bongkar Berangkat (TBB) Kapal Perlu Dievaluasi
Banyuwangi, tvOnenews.com – Antrean truk yang terus terjadi dalam dua pekan terakhir menjadi efek karambol kondisi pada berbagai pihak. Mulai dari perjalanan warga yang akan ke Bali menjadi terganggu, distribusi logistik ke Bali dan sebaliknya jadi terhambat, meningkatnya biaya angkutan, dan seterusnya.
Antrean truk yang diperkirakan bisa teratasi dalam kurun waktu jam, ternyata molor hingga berhari-hari. Menurut DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), saat ini terdapat 56 kapal yang memiliki izin operasi pada lintasan Ketapang–Gilimanuk. Jumlah tersebut telah mencukupi, bahkan relatif lebih banyak dibandingkan dengan kapasitas dermaga yang tersedia.
Khoiri, Ketua DPP Gapasdap, menegaskan kalau penerapan mekanisme Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) perlu dievaluasi secara obyektif. Kapal mengangkut kendaraan dan penumpang dari Ketapang menuju Gilimanuk. Setelah membongkar muatan di Gilimanuk, kapal langsung kembali ke Ketapang tanpa memuat kendaraan dan penumpang.
“TBB tidak menambah kapasitas dermaga dan tidak serta-merta meningkatkan jumlah trip. Waktu pelayaran dan waktu pemuatan dari Ketapang tetap sama, sedangkan kapal masih harus menggunakan dermaga yang sama dengan kapal reguler. Setelah kembali, kapal juga belum tentu dapat langsung sandar karena masih terdapat antrean kapal di laut,” beber Khoiri, Senin (07/09).
Penghematan waktu sekitar 15 menit karena tidak melakukan pemuatan di Gilimanuk belum dapat menghasilkan tambahan perjalanan karena slot dan kapasitas dermaga tetap terbatas.
Pola TBB mungkin dapat dipertimbangkan pada periode tertentu, seperti arus mudik atau arus balik lebaran. Namun kondisi saat ini berbeda. Kepadatan terjadi di kedua sisi, baik Ketapang maupun Gilimanuk.
“Mempercepat penyelesaian Dermaga MB II Ketapang, segera memulihkan Dermaga Bulusan, dan mempercepat port time,” tegas Khoiri.
Mengoptimalkan dermaga LCM dan plengsengan dengan cara dijadikan satu adalah solusi cepat agar dapat melayani lebih banyak kapal LCM sebagai pengganti sementara berkurangnya kapasitas pelayanan Dermaga Bulusan.
“Menambah buffer zone kendaraan berat di luar kawasan pelabuhan, terutama di wilayah utara Ketapang. Kendaraan berat dapat diarahkan menuju pelabuhan secara bertahap berdasarkan kesiapan dermaga dan jadwal kapal sehingga antrean tidak meluber ke jalan nasional,” tutup Khoiri. (hen)