- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Apa Itu Ekoteologi? Gerakan Santri Menanam 1.000 Pohon Ini Ternyata Punya Makna Lebih Dalam
tvOnenews.com - Ketika berbicara tentang menjaga lingkungan, pembahasan biasanya langsung mengarah pada perubahan iklim, sampah, deforestasi atau penghijauan. Namun, ada pendekatan lain yang menghubungkan persoalan ekologis dengan nilai keagamaan, yakni ekoteologi.
Secara sederhana, ekoteologi adalah cara pandang yang menempatkan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari refleksi dan tanggung jawab keagamaan.
Dalam perspektif ini, menjaga bumi tidak hanya dipandang sebagai tindakan sosial atau ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia terhadap ciptaan. United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut komunitas agama memiliki peran penting karena nilai dan ajaran keagamaan dapat mendorong perubahan perilaku sekaligus aksi untuk melindungi alam.
Karena itu, ekoteologi tidak berhenti pada pembahasan konsep. Nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi tindakan konkret seperti mengurangi sampah, menghemat air, menanam pohon, menjaga hutan, menggunakan energi secara bijak hingga membangun pola hidup yang lebih berkelanjutan.
Dalam konteks Islam, gagasan manusia sebagai khalifah dan pemegang amanah atas bumi sering menjadi salah satu landasan untuk menghubungkan ajaran agama dengan kepedulian ekologis.
Ekoteologi Sudah Menjadi Gerakan di Berbagai Negara
Hubungan antara agama dan gerakan lingkungan bukan fenomena yang hanya berkembang di Indonesia. Di berbagai negara, komunitas keagamaan ikut terlibat dalam kampanye perubahan iklim, konservasi alam, penghijauan hingga pendidikan lingkungan.
Salah satu contohnya adalah GreenFaith, gerakan lintas agama yang berawal dari New Jersey, Amerika Serikat, pada 1992. Kini organisasi tersebut memiliki lebih dari 100 GreenFaith Circles dan bekerja bersama mitra keagamaan di lebih dari 40 negara. Kegiatannya mencakup pendidikan lingkungan, kampanye iklim, pengembangan energi bersih hingga aksi komunitas.
Di Inggris, pendekatan serupa juga berkembang melalui IFEES/EcoIslam yang melibatkan anak muda Muslim dalam isu lingkungan. Sebuah kajian mengenai gerakan tersebut mencatat berbagai bentuk aksi, termasuk pelatihan imam dan kampanye gaya hidup yang lebih ramah lingkungan seperti iftar bebas plastik.
UNEP sendiri secara khusus mendorong keterlibatan komunitas agama dalam pemulihan ekosistem. Dalam strategi Faith-based Engagement under the UN Decade on Ecosystem Restoration, organisasi keagamaan disebut memiliki pengaruh sosial dan moral yang dapat membantu mengatasi berbagai hambatan dalam upaya restorasi lingkungan.
Artinya, agama dapat menjadi pintu masuk pendidikan lingkungan karena pesan mengenai menjaga alam diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya mengetahui persoalan lingkungan, tetapi ikut mengambil tindakan.
Ketika Santri Turun Langsung Merawat Lingkungan
Melansir dari laman Dispora Malang, konsep tersebut memiliki relevansi kuat dengan kehidupan pesantren. Pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan dan kebiasaan hidup bersama.
Di Indonesia, gagasan pesantren sebagai bagian dari gerakan lingkungan bahkan mulai mendapatkan perhatian dalam kebijakan. Kementerian Agama telah menetapkan Keputusan Menteri Agama Nomor 442 Tahun 2025 tentang Pedoman Pesantren Ramah Lingkungan. Pedoman tersebut menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dalam menerapkan konsep pesantren ramah lingkungan.
Keterlibatan peserta didik dalam kegiatan ekologis juga telah dilakukan melalui berbagai program. Pada 2025, Kementerian Agama melibatkan 4.085 madrasah negeri dan 714 madrasah swasta penerima Adiwiyata dalam gerakan penanaman pohon.
Penelitian mengenai pesantren ath-Taariq di Jawa Barat juga menemukan praktik konservasi yang menggabungkan pendidikan ekologi dengan nilai sufistik. Para santri antara lain mempelajari ekologi, memproduksi bibit tanaman dan mengolah limbah menjadi pupuk organik. Upaya penghijauan dan konservasi alam dikaitkan dengan nilai seperti zuhud, rasa syukur, gotong royong dan tafakkur.
Model semacam ini membuat aksi lingkungan tidak berdiri sendiri. Menanam pohon, misalnya, dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter sekaligus pembelajaran mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam.
1.000 Pohon dan Makna “Sedekah Oksigen” di Malang
Semangat tersebut kemudian terlihat dalam rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo, Malang, Jawa Timur.
Sebanyak 1.000 pohon ditanam pada Sabtu (3/10/2026) dengan melibatkan santri dan peserta PPSN. Jenis pohon yang dipilih meliputi Pule, Mangga, Maja dan Tabebuya. Pemilihannya disesuaikan dengan kondisi tanah di kawasan pesantren agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan persiapan penanaman dilakukan dengan mempertimbangkan jenis pohon, lokasi hingga teknis pelaksanaan.
"Kita siapkan bibit 1000 pohon untuk ditanam bersama di berbagai titik di kawasan pesantren dan sekitar Kabupaten Malang. Dimana Ini adalah ikhtiar kita bersama. Intinya, cinta lingkungan salah satunya diwujudkan dengan menanam pohon," ujar Khofifah, yang dalam kegiatan tersebut didampingi Direktur Bina Dakwah dan Pendidikan Non-Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Mahrus.
"Menanam pohon adalah sedekah oksigen jangka panjang. Apa yang kita tanam hari ini, akan memberikan manfaat oksigen, keteduhan, dan kehidupan bagi generasi ke depan. Ini adalah amal jariyah lingkungan," imbuh Gubernur Jatim.
Khofifah memaknai penanaman tersebut sebagai bentuk “sedekah oksigen” bersama. Pohon yang ditanam diharapkan bukan sekadar mempercantik kawasan pesantren, tetapi memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
- Laman Resmi
Mahrus menilai kegiatan tersebut sejalan dengan penguatan ekoteologi di lingkungan pesantren. “Menanam pohon adalah dakwah bil hal, dakwah melalui perbuatan nyata. Santri tidak hanya mempelajari dalil tentang menjaga bumi, tetapi langsung mempraktikkannya,” ujar Mahrus.
Keberhasilan gerakan lingkungan tidak ditentukan oleh seremoni penanaman saja. “Seribu pohon ini baru permulaan, yang lebih penting adalah merawatnya. Kami berharap para peserta membawa semangat ini pulang dan melanjutkannya di pesantren masing-masing,” katanya.
Pada akhirnya, inti dari ekoteologi bukan sekadar menghubungkan agama dengan isu lingkungan, tetapi mengubah nilai tersebut menjadi perilaku nyata. Tantangan berikutnya justru lebih panjang: memastikan pohon-pohon tersebut dirawat dan semangat menjaga alam benar-benar dibawa pulang oleh para santri ke pesantren dan masyarakat masing-masing. (udn)