- Antara
Anwar Hafid Bangun Jembatan dari Dana Pribadi, Demi Pelajar Tak Lagi Seberangi Sungai
tvOnenews.com - Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid merogoh dana pribadi untuk membangun Jembatan Masungkang di Banggai setelah mengetahui banyak pelajar yang harus menyeberangi sungai untuk sekolah. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah cepat agar akses pendidikan dan mobilitas warga tetap berjalan tanpa harus menunggu proses penganggaran melalui APBD.
Keputusan Anwar Hafid berawal dari kabar adanya pelajar dan ASN yang harus menerjang arus sungai sebagai akses untuk mobilitas ke sekolah di Desa Masungkang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai. Kondisi tersebut mengetuk kepedulian Abwar Hafid hingga memilih turun tangan secara pribadi untuk menghadirkan akses penyeberangan yang lebih aman.
“Hati nurani saya terpanggil secara pribadi, jadi spontanitas saja setelah membaca berita media dan melihat foto anak-anak sekolah yang menyeberang sungai saat banjir,” kata Anwar Hafid.
Dia menyampaikan, kondisi demikian tidak sekadar berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi menyangkut kepentingan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu, keselamatan dan kelancaran perjalanan mereka menuju sekolah menjadi pertimbangan utama dalam keputusan tersebut.
“Karena kepentingan anak-anak untuk sekolah jadi yang paling utama buat saya,” ujar dia.
Kondisi anak-anak yang harus berjuang menyeberangi sungai juga membawa Anwar Hafid kembali pada pengalaman masa lalunya. Dia teringat perjuangan ketika masih duduk di bangku SMP di Morowali sekitar 40 tahun lalu.
Pengalaman tersebut membuat persoalan akses pendidikan di daerah terpencil terasa lebih dekat baginya. Dia melihat kesulitan anak-anak di Masungkang bukan sekadar persoalan hari ini, melainkan tantangan yang berpotensi menghambat kesempatan mereka memperoleh pendidikan.
“Kondisi tersebut mengingatkan dengan perjuangan saya semasa dulu waktu masa sekolah SMP di Morowali 40 tahun silam,” ungkapnya.
Anwar Hafid menyadari pembangunan infrastruktur permanen idealnya mengikuti mekanisme penganggaran pemerintah melalui APBD. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu, sementara kebutuhan anak-anak untuk bersekolah tidak dapat ditunda hanya karena belum tersedianya jembatan penyeberangan.
“Kalau menunggu mekanisme APBD masih lama, jadi kita lakukan antisipasi sementara saja dulu karena anak sekolah tidak boleh libur hanya karena tidak ada jembatan penyeberangan,” ujarnya.
Sementara itu Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Indra Charismadji mengatakan keberanian Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid membangun Jembatan Masungkang dengan dana pribadi patut diapresiasi. Menurut dia, keputusan tersebut mencerminkan kepekaan, keberanian, dan respons cepat seorang pemimpin dalam menghadapi persoalan nyata yang dialami masyarakat.
“Langkah Gubernur Anwar Hafid patut diapresiasi sebagai wujud kepekaan, keberanian, dan respons cepat seorang pemimpin terhadap penderitaan konkret masyarakat,” kata Indra Charismadji.
Dia menambahkan respons cepat Anwar Hafid penting ketika persoalan yang dihadapi masyarakat berkaitan langsung dengan keselamatan dan keberlangsungan pendidikan. Menurut dia kebutuhan mendesak seperti akses penyeberangan harus mendapat perhatian segera karena risiko yang dihadapi para pelajar berlangsung setiap hari.
“Anak-anak tidak dapat diminta menunggu siklus anggaran berikutnya sementara setiap hari mereka harus menghadapi risiko ketika pergi ke sekolah,” jelasnya.
Diketahui, pembangunan infrastruktur yang masif menjadi komitmen pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur Anwar Hafid-Reny Lamadjido selama ini. Melalui skema Multi Years Contract (MYC) Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menggelontorkan anggaran sebanyak Rp604,8 miliar membangun semua jalan di wilayahnya.
Selain melalui skema multiyears contract, pada tahun 2026 Berani Lancar juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp208,98 miliar untuk membangun jalan dan jembatan. Pada 2026, pemerintah provinsi menangani 57 ruas jalan dan 10 jembatan di berbagai wilayah di Sulawesi Tengah.(chm)