news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Segubal makanan khas Lampung.
Sumber :
  • Pujiansyah

Segubal, Makanan Khas Lampung Yang Diburu Saat Ramadhan dan Idul Fitri

Bandar Lampung, Lampung - Dari sudut Jalan Purnawirawan Raya, Gang Purnawirawan VC, Kelurahan Langkapura, Kota Bandar Lampung, nampak seorang wanita paruh baya sedang sibuk menyusun kayu bakar untuk memasak.
Senin, 11 April 2022 - 06:52 WIB
Reporter:
Editor :

Bandar Lampung, Lampung - Dari sudut Jalan Purnawirawan Raya, Gang Purnawirawan VC, Kelurahan Langkapura, Kota Bandar Lampung, nampak seorang wanita paruh baya sedang sibuk menyusun kayu bakar untuk memasak. Ya, saat tvOneNews.com menghampiri wanita paruh baya bernama Sumiati, sedang memasak santun yang merupakan salah satu bahan untuk memasak Segubal

Segubal atau biasa disebut juga sekubal, merupakan makanan khas masyarakat Lampung. Makanan berbahan dasar beras ketan, santan dan garam ini, selalu menjadi ciri khas bagi masyarakat Lampung saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. 

Biasanya masyarakat Lampung menyajikan segubal ketika ramadhan dan hari raya Idul Fitri, dengan didampingi makanan lain seperti rendang, opor ayam,  kuah santan, dan  makanan lainnya sesuai selera. Selintas kuliner segubal mirip dengan lontong nasi yang dibungkus daun pisang. 

Untuk memasak segubal diperlukan waktu hingga berjam-jam, mulai dari pemasakan santan hingga perebusan segubal sampai siap disajikan dan dikonsumsi. 

Cara membuatnya pertama santan kelapa diaron atau dimasak sampai matang. Kemudian setelah itu dimasukan ketan setelah masak kemudian di cetak, setelah itu dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Setelah dikukus, segubal bisa disantap.

Menurut Sumiati, kesulitan dalam pembuatan kue khas Lampung ini adalah, mendapatkan kualitas bahan baku yang sesuai untuk mendapatkan tekstur yang pas tidak terlalu keras maupun lembek. Selain itu proses membungkus segubal juga harus dilakukan secara hati-hati, supaya ketika di kukus bungkusan segubal tidak pecah dan robek. 

"Kami membuat segubal ini tidak setiap hari, tergantung dengan pesanan. Seminggu hanya beberapa kali saja membuat segubal. Dibutuhkan waktu berjam-jam dalam proses pembuatan segubal," tutur Sumiati. 

Dalam pembuatan segubal, Sumiati dibantu oleh anaknya Agus Tami. Saat memasuki bulan Ramadhan, pengrajin segubal di Bandar Lampung mulai kebanjiran pesanan. Pembuatan sekubal ini sudah ditekuninya selama bertahun-tahun. 

"Pada hari biasa produksi segubal hanya 10 kg ketan atau 60 lonjor segubal. Sementara ketika bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tiba, maka produksinya bisa 4 kwintal ketan atau 2400 lonjor. Ketika Ramadhan dan lebaran, pesanan segubal mengalami peningkatan peningkatan pesanan," jelas Agus Tami. 

Agus Tami menceritakan biasanya ia menjual satu lonjor segubal dengan harga Rp 12.500 rupiah dengan isi bulatan segubal sebanyak delapan tumpuk. Panganan Segubal bisa tahan selama 2 hari, bila dimasukan kedalam kulkas bisa bertahan 6 hari. 

"Biasanya konsumen ada pesan segubal dengan ditumpuk sebanyak delapan belas bulatan untuk dijadikan cinderamata asal Lampung. Segubal lebih nikmat dengan dicampur rendang, opor ayam, kuah santan, tapai ketan dan sebagainya tergantung selera," ungkapnya.

Selain bulan Ramadhan, Agus Tami menjual segubal dengan cara berkeliling Bandar Lampung. Bahkan ada juga yang dikirim keluar daerah sesuai dengan pesanan. "Waktu itu ada pesanan sampai di Korea, karena ada orang Lampung yang kebetulan orang tuanya tinggal di Korea dan ingin makan Segubal," tutup Agus Tami. (Pujiansyah/Nof)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:41
01:15
01:16
01:29
10:52
04:13

Viral