- Istimewa
Ponpes Darul Mukhlisin Aceh Tamiang Sudah Bersih dari Tumpukan Kayu, Pemulihan Jadi Perhatian Pemerintah Pusat
Menanggapi kondisi tersebut, Qodari menegaskan bahwa pesantren mengalami dampak kerusakan yang cukup serius akibat banjir, meskipun pada saat yang sama turut menahan material kayu agar tidak menyebar lebih luas.
“Tentunya konsekuensinya adalah pesantren ini rusak di banyak bagian, kena air yang begitu besar dan pohon-pohon, kayu-kayu yang begitu banyak. Juga kena lumpur yang masuk ke ruang kelas. Tapi Alhamdulillah berkat kerja sama semua pihak, Bapak TNI, Polri, dari kehutanan, dari BUMN WIKA. Maka tempat ini pelan-pelan mulai dibersihkan. Kita lihat sudah tidak ada lagi kayunya,” ujar Qodari.
Sementara itu, Haji Zakwan menyampaikan terima kasih atas upaya pembersihan kayu-kayu di lingkungan pesantren. Ia meluruskan informasi yang sempat beredar bahwa kayu-kayu tersebut telah dimanfaatkan.
“Kami meluruskan informasi yang menyatakan kayu-kayu telah digunakan, itu tidak benar. Belum ada kayu yang digunakan, masih utuh. Untuk bisa menggunakan kayu tersebut, kami perlu izin resmi dari pemerintah pusat,” ujar Zakwan.
Mendengarkan hal tersebut, Qodari menyatakan akan menindaklanjuti persoalan izin pemanfaatan kayu untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pesantren melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Zakwan menambahkan, kegiatan belajar mengajar di pesantren sudah kembali berjalan, namun para santri belum dapat kembali tinggal di asrama dan masih harus pulang-pergi karena kondisi asrama putra dan putri belum memungkinkan untuk dihuni.
“Belum bisa boarding, soalnya kondisi asrama laki-laki dan perempuan belum memungkinkan untuk santri menginap. Mungkin secara perlahan akan kami rehab dulu, minta doanya juga agar segala sesuatunya cepat pulih nanti,” pungkas Zakwan.(chm)