- tim tvOne/tim tvOne
Gelaran 4th TPOMI 2026 Soroti Integrasi Teknologi Mutakhir dan SDM Industri Pengolahan Kelapa Sawit Berkelanjutan
Medan, tvOnenews.com - Gelaran 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 resmi dibuka, Rabu (8/7/2026) di Hotel Adi Mulia Medan, Sumatera Utara, mengusung tema besar “Updating Technology and Talent Palm Oil Mill and Downstream atau Memutakhirkan Teknologi & Talenta Pabrik Kelapa Sawit dan Sektor Hilir”, dengan sub-tema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045”.
Ajang strategis ini fokus menyoroti integrasi teknologi mutakhir dan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di industri pengolahan kelapa sawit berkelanjutan.
Acara yang berlangsung selama tiga hari (8–10 Juli 2026) ini diselenggarakan oleh Media Perkebunan bekerja sama dengan Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan (P3PI).
TPOMI 2026 sukses menyedot perhatian dengan dihadiri lebih dari 400 peserta serta menghadirkan sekitar 50 booth pameran dari dalam dan luar negeri. Forum ini mempertemukan para pengelola pabrik, akademisi, pelaku usaha, hingga jajaran pembuat kebijakan lintas sektor.
Pembukaan (opening) TPOMI 2026 diresmikan secara simbolis oleh Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016-2020 sekaligus Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, M.M. Turut mendampingi Ketua P3PI sekaligus Chief Executive TPOMI 2026, Ir. Posma Sinurat; Wakil Koordinator Bidang Perekonomian Kadin Sumatera Utara, Peter Suhendra; serta Asisten Deputi Pengembangan Industri Agro, Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Eripson Sinaga, S.ST, M.M., yang hadir mewakili Menko Perekonomian.
Dalam sambutannya, Chief Executive TPOMI 2026, Ir. Posma Sinurat menyatakan bahwa event ini merupakan wujud nyata dari mimpi bersama antara Media Perkebunan dan P3PI dalam membangun industri kelapa sawit nasional.
"Kami ingin industri sawit Indonesia semakin maju, produktif, inovatif, dan berkelanjutan melalui penguatan sinergi teknologi dan talenta," ujarnya.
Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, M.M., mengapresiasi tingginya antusiasme peserta. Ia menyebut TPOMI 2026 bukan sekadar destinasi teknologi, melainkan wadah informasi untuk menjawab tantangan riil industri saat ini, termasuk kebijakan implementasi B50 oleh pemerintah.
"Secara politik pasar internasional, kebijakan B50 membuktikan bahwa produksi minyak sawit kita kuat di dalam negeri dan berpotensi menjadikan Indonesia eksportir energi berkelanjutan, sehingga menjamin harga kompetitif. Namun, tantangan bagi para pakar dan peneliti yang berkumpul hari ini adalah bagaimana mengolah minyak sawit menjadi bahan bakar setara Dexlite atau Pertamax, bukan sekadar biosolar bersubsidi, agar bernilai tinggi dan tidak membebani APBN," tutur Bambang.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Koordinator Bidang Perekonomian Kadin Sumut, Peter Suhendra, mengajak pelaku usaha untuk lebih terbuka mengeksplorasi potensi hilirisasi baru, termasuk pemanfaatan sisa peremajaan tanaman (replanting) sebagai material masa depan (future palm oil material) yang kini mulai diriset secara intensif.
Di sisi regulasi, Eripson Sinaga, S.ST, M.M., yang membacakan sambutan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menegaskan pentingnya forum ini sebagai inkubator strategis nasional untuk memperkuat kolaborasi triple-helix (pemerintah, dunia usaha, dan akademisi).
"Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tumbuh kuat sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026, menjadi salah satu yang terbaik di antara negara-negara G20. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,6 persen sepanjang tahun 2026 dan akselerasi hingga 8 persen pada 2029. Hilirisasi kelapa sawit memegang peran krusial dalam mencapai target tersebut demi kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045," jelas Eripson.
Selain rangkaian konferensi yang menghadirkan narasumber kompeten dari kementerian teknis, asosiasi, dan lembaga riset, eksibisi TPOMI 2026 juga diramaikan oleh puluhan korporasi skala global dan nasional.
Pameran ini menampilkan berbagai solusi digitalisasi mutakhir, mulai dari mesin manufaktur modern, alat otomatisasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan IoT, teknologi efisiensi energi, hingga perangkat lunak (software) pemantauan produksi kelapa sawit masa depan yang ramah lingkungan. (Tim tvOne/wna)