news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Saat Masjid Menjadi Bagian dari Identitas Aceh, Mengapa Kebersihannya Perlu Diperhatikan?.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Saat Masjid Menjadi Bagian dari Identitas Aceh, Mengapa Kebersihannya Perlu Diperhatikan?

Banda Aceh bahkan memiliki julukan “Serambi Mekah”, sebutan yang tidak terlepas dari perannya sebagai salah satu pusat perkembangan dan penyebaran Islam
Selasa, 8 September 2026 - 22:47 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Aceh tidak hanya dikenal karena sejarah panjang Kesultanan Aceh Darussalam, tetapi juga karena kuatnya posisi Islam dalam kehidupan masyarakat. Banda Aceh bahkan memiliki julukan “Serambi Mekah”, sebutan yang tidak terlepas dari perannya sebagai salah satu pusat perkembangan dan penyebaran Islam di Nusantara.

Pemerintah Kota Banda Aceh mencatat, kota ini sejak masa kesultanan telah menjadi pusat pendidikan Islam dan didatangi pelajar maupun pedagang dari berbagai wilayah.

Dalam konteks tersebut, masjid memiliki posisi yang lebih luas daripada sekadar tempat menjalankan ibadah. Masjid menjadi ruang berkumpul masyarakat, pusat kegiatan keagamaan, hingga bagian dari identitas sejarah sebuah daerah.

Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Raya Baiturrahman di pusat Kota Banda Aceh, yang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh disebut sebagai pusat peribadatan utama sekaligus bagian penting dari sejarah sosial dan peradaban Islam di Aceh.

Karena itu, menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid bukan hanya persoalan estetika. Ruang ibadah yang bersih, terawat, dan nyaman dapat mendukung aktivitas jamaah sekaligus mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap fasilitas yang digunakan bersama.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 juga menempatkan kebersihan masjid sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kenyamanan ibadah dan kesehatan jamaah.

Masjid dan Tradisi Keislaman yang Melekat di Aceh

Sejarah Banda Aceh tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Islam di kawasan Nusantara. Pemerintah Kota Banda Aceh menyebut kota ini sebagai salah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara dan memiliki peran penting dalam penyebaran Islam ke berbagai wilayah Indonesia. Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh, Banda Aceh juga berkembang sebagai pusat pendidikan dan perdagangan.

Jejak sejarah tersebut masih terlihat dari keberadaan berbagai masjid bersejarah. Masjid Raya Baiturrahman, misalnya, tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol religius, budaya, perjuangan, dan ketahanan masyarakat Aceh.

Masjid tersebut bahkan menjadi salah satu landmark utama Kota Banda Aceh dan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat hingga kini.

Posisi masjid yang dekat dengan aktivitas masyarakat membuat aspek pemeliharaan menjadi penting. Kebersihan lantai, karpet, tempat wudu, toilet, halaman, hingga sirkulasi udara menjadi bagian dari pengelolaan rumah ibadah yang sehari-hari digunakan banyak orang.

Kebersihan Masjid Bukan Hanya Tanggung Jawab Marbot

Menjaga kondisi masjid tentu tidak bisa hanya dibebankan kepada marbot atau pengurus. Jamaah juga memiliki peran melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga kebersihan setelah menggunakan fasilitas, membuang sampah pada tempatnya, serta ikut merawat sarana yang tersedia.

Kajian mengenai pengelolaan masjid menunjukkan bahwa keterlibatan pengurus dan jamaah dalam kegiatan kebersihan rutin dapat membantu meningkatkan kenyamanan lingkungan ibadah. Tantangannya, pengelolaan kebersihan sering berhadapan dengan keterbatasan fasilitas maupun sumber daya manusia.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan di masjid yang memiliki intensitas penggunaan tinggi. Masjid Raya Baiturrahman sendiri, misalnya, merupakan pusat ibadah sekaligus destinasi wisata religi. Tingginya aktivitas membuat pengelolaan kebersihan dan kenyamanan menjadi bagian penting dari pemeliharaan bangunan serta pelayanan kepada masyarakat.

Isu mengenai kenyamanan rumah ibadah tersebut kemudian muncul bersamaan dengan kegiatan sosial yang berlangsung di Banda Aceh. Pada 4 September 2026, Enesis Group bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar program “Wangikan 50 Masjid” di Masjid Raya Baiturrahman.

Melibatkan sekitar 100 Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan marbot. Melalui program itu, bantuan produk pengharum disalurkan kepada 50 masjid di wilayah Banda Aceh melalui pengurus masjid. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya dilakukan di Jakarta pada Maret 2026 dan merupakan bagian dari inisiatif sosial perusahaan sekaligus upaya mendukung kenyamanan masyarakat di rumah ibadah.

“Program wangikan 50 masjid di Banda Aceh bersama BAZNAS adalah bukti nyata. Ini merupakan komitmen kami untuk terus berkontribusi dan terus menjalankan inisiatif sosial yang memberikan dampak positif sekaligus memberikan awareness kepada masyarakat,” ujar Perwakilan Enesis Group RM Ardiantara.

Terlepas dari program tersebut, pemeliharaan masjid pada dasarnya merupakan pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Di wilayah yang memiliki sejarah keislaman kuat seperti Aceh, masjid bukan hanya ruang untuk beribadah, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, perhatian terhadap kebersihan dan kenyamanan rumah ibadah tidak berhenti pada upaya membuat ruangan terlihat atau terasa lebih bersih. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bersama agar masjid tetap menjadi ruang yang layak, nyaman, dan terawat bagi siapa pun yang datang untuk beribadah maupun menjalankan aktivitas sosial. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:03
05:19
01:23
01:28
20:49
05:57

Viral